“Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (Yusuf:108).

Jama'ah Penuh Berkah

Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.

Bekerja Untuk Ummat

Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (9:105)

Inilah Jalan Kami

Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik. (12:108)

Yang Tegar Di Jalan Dakwah

Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.

Kesungguhan Membangun Peradaban

Semua kesungguhan akan menjumpai hasilnya. Ini bukan kata mutiara, namun itulah kenyataannya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang diusahakan dengan sepenuh kesungguhan.

Rabu, 14 November 2012

MARI KITA DIDIK ANAK ANAK KITA DENGAN KELEMBUTAN HATI DAN CINTA

Saudaraku..
Pagi itu, suasana begitu sejuk. Semilir angin sepoi-sepoi menyapa wajah. Ali bin Abi Thalib ra, khalifah kaum muslimin ke empat memanggil anaknya; Hasan ra lalu dengan penuh kasih sayang ia menasihati anaknya:
“Wahai anakku, intisari agama ini adalah berinteraksi dengan orang-orang yang bertakwa.
Kesempurnaan ikhlas dib
uktikan dengan menjauhi semua perkara yang diharamkan-Nya. Sebaik-baiknya ucapan, adalah ucapan yang diiringi dengan perilaku (keteladanan).
Terimalah orang yang mengajukan uzur (alasan) kepadamu.
Maafkan orang yang meminta maaf kepadamu.
Taatilah saudaramu (dalam ketaatan), meskipun ia sering bermaksiat kepadamu.
Dan hubungkan tali silaturahim dengannya, walaupun ia sering memutuskan tali persaudaraan denganmu.”
(Mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).
Saudaraku…
Nasihat Ali bin Thalib ra kepada Hasan puteranya, menjadi pelajaran berharga bagi kita para orang tua dalam mendidik anak-anak kita.
• Anak-anak adalah tali cinta. Kebahagiaan sebuah keluarga akan semakin membuncah dengan kehadiran sang buah hati. Tak jarang sebuah keluarga dilanda kebosanan, kapal cinta menjadi oleng lantaran pujaan hati yang didamba tak kunjung hadir meramaikan dan menyerikan biduk keluarga. Sebagai tanda syukur atas karunia besar ini, kita berkewajiban merawat amanah Allah swt ini dan mendidiknya dengan nilai pendidikan yang Dia kehendaki.
• Nilai nasihat akan masuk ke dalam hati, jika ia memantul dari hati. Disampaikan dengan hati-hati. Memancar dari kelembutan hati dan cinta. Sebaliknya, nilai pengajaran akan membuat anak menjadi kurang ajar, jika disampaikan dengan kata-kata yang tak sabar. Memantul dari wajah yang kasar. Sebaik dan sebenar apapun nasihat itu.
• Kisah ini memberikan keteladanan bagi kita, demikianlah seharusnya hubungan orang tua dengan anaknya. Ada kedekatan di sana. Ada keakraban. Ada hubungan emosional. Ada sapaan kasih. Ada teguran cinta. Walau sesibuk dan sepadat apapun aktifitas rutin keseharian kita.
• Orang yang memahami dien dengan baik, tampak dari kedekatan dan interaksinya dengan orang lain. Orang yang menjadikan orang-orang dekatnya dan teman pergaulannya adalah orang shalih dan bertakwa, maka ia termasuk golongan mereka. Begitupun sebaliknya, sulit kita mempercayai kwalitas agama seseorang, jika teman pergaulannya adalah orang-orang yang memiliki masalah mental dan buruk perangainya.
• Membentengi diri kita, keluarga dan generasi kita dari hal-hal yang diharamkan, merupakan bukti keikhlasan kita dalam mentaati rambu-rambu-Nya. Bagi orang tua, mendidik anak-anak untuk senantiasa menjaga nilai sebuah keikhlasan dalam beramal merupakan suatu kelaziman.
• Keteladanan merupakan syarat kedekatan dan kecintaan masyarakat kepada kita. Terlebih jika kita menjadi publik figur, ustadz, orang yang berkedudukan, orang tua apatah lagi sebagai pemimpin dalam masyarakat. Pandai merangkai kata-kata dan indah dalam bertutur kata, tanpa diimbangi dengan keteladanan, maka kita akan gagal meraih hati dan simpati mereka.
• Kebesaran hati tampak dari ‘salamatus shadr’; lapang dada. Dengan dada yang lapang, maka kita mudah menerima uzur, memaafkan kekhilafan, keteledoran dan kesalahan orang lain. Orang yang melihat dunia-nya sempit, pengap dan gelap, berarti ia tidak memiliki kelapangan dada. Sejatinya, kitalah yang dapat menciptakan dunia dalam hidup kita. Kita ingin dunia kita menjadi luas atau sempit.
• Ukhuwah (persaudaraan iman) yang tulus suci, melahirkan kesetiaan yang abadi. Keringnya ukhuwah orang lain terhadap kita yang ditandai dengan kurangnya komunikasi dan sedikitnya kadar kunjungan. Atau terkadang kata-kata yang terucap dari bibirnya sering melukai perasaan kita. Sikapnya yang membuat ketenangan kita terusik. Dan yang senada dengan itu. Jika sudah demikian, kembalikan akar persoalan pada diri kita. Barangkali, kita kurang arif dan aktif dalam menyirami ladang ukhuwah kita dengan air iman, jarang kita taburi pupuk perhatian dan cinta. Dan seterusnya.
Saudaraku..
Sudahkah kita mendidik anak-anak kita dengan kelembutan hati dan cinta? Dan sudahkah kita tanamkan nilai-nilai luhur terhadap anak-anak kita, yang pernah ditanamkan Ali bin Abi Thalib ra terhadap anaknya Hasan?. Mari kita teladani kehidupan salafus shalih. Karena di sana ada keberuntungan dan kesuksesan. Wallahu a’lam bishawab.
Riyadh, 11 November 2012 M
Sumber:Status Ustadz Abu Ja’far
(http://www.facebook.com/profile.php?id=100000992948094)

Minggu, 04 November 2012

MUSLIMAH DAN EKONOMI KELUARGA

Kembali kita akan bicarakan tentang peran muslimah dalam ekonomi keluarga. Beberapa postingan sebelumnya telah saya bahas secara berseri seputar hal tersebut. Bahwasanya seorang muslimah saat menjadi ibu rumahtangga, haruslah memainkan peran yg sangat penting dan signifikan untuk kemajuan ekonomi keluarganya. Kali ini pembahasan tersebut kami hadirkan melalui slide powerpoint, agar lebih luas kemanfaatannya dan lebih mudah untuk dipahami.

Pembahasan inti yang pertama adalah : Muslimah harus mampu menjadi motivator, dalam arti menyemangati suami agar mampu bekerja atau berusaha dengan baik dan profesional. Bukan justru sebaliknya, memberatkan langkah suami saat akan pergi keluar rumah mencari nafkah.

Yang kedua mampu menjadi Auditor yang baik bagi keuangan keluarganya. Auditor disini berarti mampu memastikan bahwa apa yang diperoleh suaminya adalah penghasilan yang halal dan barokah. Senantiasa mengingatkan suami untuk mawas diri terhadap godaan-godaan penghasilan haram yang mungkin berlalu lalang dalam kesehariannya. Ini menjadi sangat penting, karena kasus yang ada biasanya justru sang istri lah yang senantiasa menuntut banyak dari suami, sehingga suami akhirnya mencari jalan pintas, mendekati sumber-sumber yang haram.

Ketiga, muslimah harus mampu menjadi Manager, menerima apa yang diberikan suami dengan penuh rasa syukur dan qonaah, untuk kemudian mengelolanya dengan baik agar tercipta kondisi keuangan keluarga yang sehat nan dinamis. Dan terakhir, jika kondisinya memang menuntut sebuah keluarga membutuhkan pemasukan yang signifikan, maka bisa jadi sang muslimah ikut menjadi stakeholder dalam ekonomi rumah tangganya, berupa turut bekerja membantu sang suami. Tentang permasalahan muslimah bekerja di luar rumah, tentu ada adab dan syarat yang harus dijunjung tinggi. Kita semua tidak menginginkan selesai satu permasalahan, lalu memunculkan permasalahan lain-lain yang lebih besar lagi.

Untuk lebih lengkapnya, terkhusus bagi sahabat yang sering berbagi inspirasi melalui kajian, ceramah dan seminar, semoga presentasi powerpoint ini bisa menjadi salah satu bahan rujukan.

Oleh: ust. Hatta Syamsudin
sumber :www.optimisindonesia.com

 DOWNLOAD POWERPOINT :
http://www.4shared.com/file/N8jCHTAZ/Peran_Muslimah_dalam_Ekonomi_K.html

4 PENYEBAB SU'UL KHATIMAH

Saudaraku..
Setiap manusia yang merentasi perjalanan hidup di dunia ini, pastilah suatu saat akan sampai pada batas akhir kehidupannya. Ajal pasti datang menghampirinya. Kematian ibarat tamu yang tidak pernah diundang. Ia datang tanpa mengenal waktu, keadaan, kedudukan, profesi dan usia seseorang. Terkadang ia datang di waktu malam, pagi, siang dan sore hari.
Bisa jadi ia datang menghampiri seseorang ketika popularitasnya sedang berada di puncak. Atau sebaliknya ajal menyapa saat ia terpuruk dan terjatuh. Ia juga dapat menyapa kita di kala sehat, sakit, bahagia dan merana.
Ajal merupakan persoalan ghaib bagi manusia. Terkadang seseorang yang begitu disanjung dan dipuja-puja serta digadang-gadang oleh manusia, ternyata akhir kehidupannya sangatlah tragis dan menyayat hati. Dan tidak sedikit orang secara kasat mata hidupnya sarat dengan kesederhanaan dan diselimuti kekurangan, tapi penghujung hidupnya sangatlah indah dan manis.
Akhir sebuah kehidupan merupakan penentu masa depan kita di akherat kelak. Husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik) adalah harapan dan cita-cita semua orang. Tetapi ia hanya merupakan khayalan dan impian belaka bila kita tidak pernah mengukir amal-amal keta’atan dalam hidup. Tidak membekali diri dengan iman dan mengenakan baju ketakwaan. Atau sandaran pada Sang Maha Pencipta teramat ringkih. Lemah dalam kepribadian dan tidak memiliki citra yang baik di tengah-tengah masyarakatnya.
Bila kita telusuri perjalanan hidup generasi pendahulu kita (salafus shalih), kita temukan bahwa hati mereka senantiasa dihiasai kemurnian tauhid, keta’atan yang sempurna terhadap Rasulnya, dan ukiran amal-amal shalih yang amat mengagumkan dan mempesona serta taburan amal dan bakti. Tetapi yang demikian itu tidak menjadikan mereka bangga diri, apatah lagi takabur dengan apa yang telah mereka perbuat. Bahkan hati mereka selalu dihantui perasaan takut yang tak terperi dan kekhawatiran yang mencekam, jika mereka tidak mampu menghadap Allah dalam keadaan husnul khatimah.
Sufyan Atsaury rahimahullah (ulama terkemuka dari kalangan tabi’in), di kala mengenang pedihnya siksa neraka, menyebabkan ia pernah terkencing darah dan nanah. Ia seorang yang zuhud terhadap dunia. Ketika ia berada di ambang kematian, ia meneteskan air mata menangis tersedu-sedu. Terbata-bata suaranya, dari lisannya terucap, “Aku khawatir di saat yang sangat menentukan masa depanku di akherat seperti ini, Allah mencabut keimanan dari hatiku.”
Begutu pula Malik Bin Dinar rahimahullah ketika melaksanakan shalat malam, ia tak sanggup membendung air matanya hingga membasahi jenggotnya yang lebat seraya berucap, “Duhai Rabb-ku, Engkau telah tetapkan para penghuni surga dan neraka, maka di manakah tempat tinggalku di akherat kelak?.”
Saudaraku…
Syekh Jalaludin As Suyuti rahimahullah dalam kitabnya “Syarhus shudur” pernah menyebutkan, ada 4 hal yang dapat menyebabkan seseorang meraih su’ul khatimah:
• Meremehkan pelaksanaan shalat.
• Menenggak minuman keras.
• Durhaka kepada kedua orang tua.
• Mengganggu kaum muslimin.
Saudaraku..
Shalat yang ditunaikan dengan baik mempunyai bekas positif yang memancar pada perilaku seseorang. Kwalitas shalat kita ukurannya adalah perbuatan dosa dan maksiat menyingkir dari kehidupan kita. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” Al Ankabut: 45.
Dunia yang menjadi panggung sandiwara, pentas seni dan gedung theater sering membuat kita lupa dan mengabaikan tugas-tugas kita sebagai hamba-Nya. Nyanyian, begadang, sinetron, Indonesian Idol, film laga, suguhan lawak, acara-acara menarik di televisi lainnya, Nobar, gaple, catur dan yang senada dengan itu, sering melupakan kita dari zikir dan mengabaikan pelaksanaan shalat. Padahal kematian akan datang menyapa sesuai dengan kebiasaan yang kita lakukan.
Imam Dzahabi rahimahullah berkisah dalam kitabnya “al kabair”, ada seorang pemuda yang biasa menghabiskan waktu-waktu luangnya dengan catur. Ketika sakit keras ia ditalqin untuk mengucapkan laa ilaha illallah. Tapi yang keluar dari lisannya justru ucapan “Scak”. Ucapan itu bukan mematikan lawan main caturnya tetapi mematikan dirinya sendiri.
Ibnul Qayyim rahimahullah menceritakan, ada seorang pemuda yang suka nyanyian dan lagu-lagu yang diharamkan. Sehingga ia mendendangkannya atau mendengarkannya di sebagian besar waktunya. Saat ajal di ambang pintu, ia dibimbing mengucapkan kalimat tauhid, tapi yang diucapkannya justru nyanyian yang selama ini digandrunginya ‘nana nanana’.
Khamer disebut nabi saw sebagai “Ummul khabaits” induk atau biang keladi dari setiap keburukan atau kejahatan.
Khamer menjadi simbol semua minuman, tablet, obat membahayakan dan cairan yang memabukkan. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, khamer tampil dalam kemasan yang lebih menarik, merek yang memikat dan namanya pun semakin enak didengar. Seperti; ekstasi, ineks, shabu-shabu, putaw, ganja, heroin, morfin. Di masa kecil dulu, kita baru mengenal minuman keras semisal; anggur kuat cap orang tua, bir bintang, anggur kuat cap kunci, tuak dan yang senada dengan itu.
Apapun nama, merek dan kemasannya, semua yang dapat memabukkan dan menghilangkan kesadaran disebut khamer. Dan ia akan melahirkan berbagai macam kerusakan, dan mara bahaya. Baik bagi si pengguna maupun orang lain. Ia akan merusak tubuh manusia dan menghancurkan masa depannya di akherat.
Kecelakaan Xenia maut, pesawat jatuh, bus menabrak villa, tabrakan kereta api dan lain-lain, hanya merupakan contoh kecil dari bahaya mengkonsumsi khamer dan narkoba.
Ibnu Rajab rahimahullah pernah menukil dari syekh Abdul Azis bin Abu Ruwad bahwa ia pernah mentalqin seseorang pada saat sakaratul maut. Apa yang terjadi? Yang berhembus dari lidahnya justru sebuah ucapan, “Aku ingkar terhadap apa yang engkau ucapkan.” Walhasil, diketahui bahwa orang itu biasa mengkonsumsi khamer. Lantas syekh Abu Ruwad berkata, “Hindarilah dosa-dosa besar, sebab ia akan menghancurkan pelakunya.”
Sebab lain, kita terpuruk dalam su’ul khatimah adalah durhaka pada kedua orang tua.
Jika kita tadabburi ayat-ayat yang berbicara mengenai berbakti pada orang tua, maka kita dapati bahwa ukuran berbakti itu adalah “indal kibar” pada saat orang tua kita memasuki masa lansia; lanjut usia. Di saat keduanya sudah tak berdaya, pikun, lemah dan seterusnya yang memang sangat membutuhkan perawatan, perhatian, belaian kasih dan pertolongan dari kita selaku anaknya. Perkataan ‘ah’ atau ‘cih’ merupakan potret sebuah kedurhakaan. Apatah lagi anak yang membentak orang tuanya, memarahinya, menatapnya dengan kasar dan lebih dari itu.
Durhaka pada orang tua memiliki korelasi yang kuat dengan proses su’ul khatimah. Kisah sahabat Al Qamah yang masyhur, yang lebih mementingkan istri daripada ibunya sehingga memicu kemarahan sang ibu hanya merupakan contoh kecil dalam masalah ini.
Suatu ketika ada seorang lelaki yang menggendong ibunya thawaf mengelilingi Ka’bah. Dan sebelumnya ia telah menggendong ibunya itu dari Yaman. Jarak yang cukup jauh dengan Mekkah. Ia menghampiri sahabat Abdullah bin Umar seraya bertanya, “Wahai Ibnu Umar, apakah dengan jerih payahku ini aku telah membalas kebaikan atau jasa-jasanya?.” Ia menjawab, “Setengahnya juga belum. Tapi jerih payahmu yang sedikit ini akan mendapat pahala yang berlimpah ruah.”
Bagaimana dengan kita? Terkadang berjalan bergandengan tangan dengan ibu kita yang telah berusia lanjut, kita malu dilihat orang lain. Karena kita merasa bahwa kesuksesan dan kejayaan kita sama sekali tanpa ada peran dan andil darinya. Padahal ia bangun di tengah malam, hanya untuk mendo’akan kita, yang jauh di mata tapi selalu dekat di hatinya. Apakah kita akan sesukses seperti hari ini tanpa do’a tulus dari orang tua kita?.
Mengganggu kaum muslimin dan muslimat dengan hati, ucapan, perbuatan, tingkah laku dan gerak gerik kita akan berpengaruh pula pada su’ul khatimah.
Membiarkan hati digenangi hasut, dendam, berburuk sangka dan yang senada dengan itu merupakan warna gangguan kita terhadap mereka.
Melukai perasaan mereka dengan ucapan, dusta, persaksian palsu, curang dalam jual beli, fitnah, ghibah, amarah tak terbendung dan lain sebagainya merupakan corak dari gangguan kita terhadap mereka yang dapat mengusik kedamaian hati mereka.
Berlaku aniaya, tak adil dalam mengambil keputusan, merendahkan mereka, mengganggu istirahat mereka dan lain sebagainya merupakan bentuk gangguan kita berupa perbuatan dan perilaku. “Tidak akan masuk surga orang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” HR. Muslim.
Merasa teraniaya, terzalimi, tersakiti dan terluka hatinya bisa mendorong seseorang mendo’akan celaka bagi pelakunya. Do’a yang buruk menjelma dalam laknat dan kutukan serta meraih su’ul khatimah. Na’udzbillah mindzalik.
Untuk itu Nabi saw mewanti-wanti kita agar jangan sampai menzalimi orang lain. Karena do’a orang yang terzalimi didengar Allah swt.
Ya Rabb, anugerahkanlah kepada kami husnul khatimah; akhir kehidupan yang baik dan indah. Amien.
Sumber:Status Ustadz Abu Ja’far
(http://www.facebook.com/profile.php?id=100000992948094)

MURSI BERLEBARAN DI KAMPUNGNYA

Dr. Muhammad Mursi, Presiden Mesir mengisi liburan lebaran Idul Adha di Propinsi Syarqiya, bertemu dengan keluarganya. Begitu juga beliau bertemu dengan tetangga dan temanya. Beliau membersamai mereka dalam kegembiraan lebaran, sebagaimana beliau lakukan pada setiap tahun sebelum menjadi presiden.
Presiden shalat subuh di masjid dekat rumahnya, Masjid Madinah Zaqaziq. Para pemuda mendapati beliau di barisan depan di antara para jamaah shalat. Beliau memakai jalabiyah putih -pakaian khas Arab semisal gamis- tanpa ada pengawal. Para pemuda menjumpainya dan berkerumun di dekatnya sambil mengabadikan momen tersebut dengan berfoto barsama beliau.
Presiden Mursi menyambut baanyak anggota keluarganya, tetangganya dan teman-temannya mengucapkan selamat Idul Adha kepadanya. Di Propinsi beliau menerima tamu dari warga biasa sampai tokoh masyarakat. Pertemuan kekeluargaan yang mendiskusikan berbagai hal seputar permasalahan dalam dan luar negeri, upaya yang sudah dilaksanakan untuk menyelesaikan permasalahan warga dan mewujudkan cita-cita revolusi.
Dr. Mursi mengucapkan terima kasih kepada para pemuda dan mendorong mereka untuk turut serta dalam bekerja dan membangun demi Mesir Baru. Beliau berkata: “Mesir hari ini membutuhkan pemuda. Kalian sebaik-baik pemuda Mesir. Orang boleh berkata kalau pemuda Mesir tidak mampu mewujudkan tujuan dan menjaga revolusi mereka. Kalian jawab jibiran tersebut dengan tegas: “Kami mampu menciptakan sejarah gemilang.” Beliau berpesan, “Tugas kita bersama bekerja keras dan membangun, memerangi korupsi sesuai dengan kemampuan maksimal kita. Allah tempat minta pertolongan. Allah Penjaga negeri kita. Terlebih lagi Al-Qur’an merekam kebaikan dan kemajuan Mesir.” [io]

sumber :al-ikhwan.net

Jumat, 02 November 2012

KELURGA MUSLIM DI 3 BULAN TARBIYAH

(Rajab, Sya’ban & Ramadhan)
Ramadhan sudah dekat. Alhamdulillah. Musim semi orang-orang beriman itu dinanti karena kebaikan dan kenikmatannya. Tentu hanya orang beriman yang menantinya. Karena jika tidak beriman, Ramadhan hanya beban yang memberatkan dan menghilangkan kenikmatan.
Setiap keluarga mukmin ingin Ramadhannya bertenaga dan berkesan serta meningkat lebih baik. Hanya saja, sering kali kita baru merasakan bahwa Ramadhan kita dan keluarga kurang maksimal setelah berada di penghujungnya.
Salah satu penyebabnya adalah persiapan yang tidak baik. Perjalanan Ramadhan menempuh taman hijau yang menanjak. Indah bagi yang tidak mempedulikan bentuk jalannya. Bagi yang sibuk menilai jalan yang melelahkan itu, maka taman hijau di kanan kirinya hampir tak berarti. Keindahannya. Tak hanya sehari atau dua hari. Juga tidak sekali-kali. Tetapi satu bulan penuh.
Perjalanan seperti itu, bagaimana tidak disiapkan sebaik mungkin perbekalannya.
Pasti. Perjalanan panjang itu memerlukan persiapan yang baik. Gagal pada persiapan, bisa menimbulkan masalah pada perjalanan.
Persiapan itu bukan sibuk mencari tiket jauh-jauh hari. Juga bukan sibuk menghitung budget sepanjang Ramadhan dan pulang kampung. Sehingga sibuk mencari tambahan untuk itu. Persiapan juga bukan memikirkan jenis menu sepanjang Ramadhan.
Kalau demikian, persiapan apa yang diperlukan.
Persiapan itu telah diajarkan Rasulullah pada dua bulan sebelumnya; Rajab dan Sya’ban. Sebagaimana dalam sabda beliau,

عن أسامة بن زيد قال قلت : يا رسول الله لم أرك تصوم شهرا من الشهور ما تصوم من شعبان قال ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

Dari Usamah bin Zaid berkata: aku bertanya: Ya Rasulullah aku belum pernah melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain, seperti puasamu di bulan Sya’ban.
Rasul menjawab: itu ada bulan yang dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan diangkatnya amal padanya kepada Robbul ‘alamin. Maka aku ingin amalku diangkat dalam keadaan berpuasa. (HR. Nasa’i, dihasankan oleh Al Albani)
Di dalam hadits ini, Rasulullah mengingatkan kita tentang bulan yang dilupakan yaitu Sya’ban yang ada di antara Rajab dan Ramadhan. Itu artinya, Rajab dan Ramadhan merupakan bulan yang sangat diperhatikan oleh masyarakat Nabi Arab saat itu. Maka mari kita lihat apa yang ada di bulan Rajab, Sya’ban kemudian Ramadhan.

Rajab                                                  

Setelah dikaji oleh para ulama, seluruh riwayat hadits tentang keutamaan bulan Rajab, maka inilah dua kesimpulan dua ulama besar di bidang hadits,
Ibnu Qoyyim, “Setiap hadits tentang puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya adalah dusta.” (Al-Manarul Munif hal 96)
Ibnu Hajar, “Tidak ada dalil yang shahih tentang keutamaan Bulan Rajab baik keutamaan untuk puasa atau qiyam.” (Tabyinul ‘Ajab hal 11)
Dengan demikian, tidak amal khusus di bulan Rajab. Sama sekali. Karena beribadah harus berlandaskan dalil yang shahih. Jika tidak, maka kita termasuk orang-orang yang beramal dengan tanpa ilmu. Sebagaimana yang disifati dalam Al Fatihah dengan kata (الضالين/sesat).
Tetapi Bulan Rajab mempunyai keistimewaan seperti yang disampaikan oleh Al Quran. Allah berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. (Qs. at-Taubah: 36)
Dari Abu Bakrah  radhiallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam saat khutbah Haji Wada’ bersabda, “Sesungguhnya waktu berputar sebagaimana hari penciptaan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan di antaranya ada empat bulan haram, tiga bulan berturut-turut: Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab mudhar yang ada di antara bulan Jumadi dan Sya’ban." (HR. Bukhari no. 1741 dan Muslim no 1679)
Secara bahasa Rajab berarti keagungan, hal ini karena orang-orang Arab dahulu mengagungkan bulan ini sebagaimana syariat juga menjadikannya sebagai bulan haram (mulia). (Ibnu Faris dalam mu’jam maqayis lughah hal. 445)
Kini kita berada di Bulan Rajab. Salah satu bulan haram (mulia). Apa yang harus kita lakukan pada bulan seperti ini?
Ada dua hal yang harus diperhatikan,
  1. Jangan berbuat dosa padanya, karena akan dilipatgandakan
Allah berfirman:

فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

maka janganlah kamu menganiaya diri.” (Qs. At Taubah: 36)
  1. Jangan menumpahkan darah padanya
Allah berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar.” (Qs. Al Baqarah: 217)
Poin pertama adalah melakukan kesalahan dan dosa pada diri kita sendiri. Sedangkan poin kedua adalah melakukan kesalahan dan dosa pada orang lain. Keduanya, harus sangat dihindari di bulan mulia ini.
Berarti semangat Rajab adalah: menjaga diri dari dosa.

Sya’ban

Bulan ini disebut Nabi sebagai:
  1. Bulan yang dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan
  2. Bulan diangkatnya amal padanya kepada Robbul ‘alamin
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan tentang amal di waktu lalainya manusia,
Ibadah di waktu-waktu lalai mempunyai keutamaan di bandingkan waktu yang lain.”
Jadi, Bulan Sya’ban ini mempunyai dua keistimewaan: bulan dilalaikan dan bulan diangkatnya amal. Pada kedua hal tersebut, beramal mempunyai nilai baik. Nabi juga menyampaikan bahwa beliau ingin dicatat seorang yang berpuasa saat pengangkatan amal.
Adapun tindakan Rasulullah dan shahabat di bulan ini adalah:
  1. Banyak Puasa
Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha berkata,

وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ

Dan aku tidak melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyempurnakan puasa satu bulan kecuali Ramadhan. Dan aku tidak melihat beliau puasa paling banyak dalam satu bulan kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitu banyaknya hari-hari di Sya’ban yang dipuasai Nabi dengan puasa-puasa sunnah, hingga dalam riwayat lain Aisyah mengatakan bahwa Nabi puasa satu bulan penuh. Yang dimaksud oleh Aisyah adalah puasa hampir satu bulan penuh.
  1. Jika tidak, jangan lewatkan puasa pertengahan Sya’ban (Al Ayyam Al Bidh)

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ أَوْ لِآخَرَ أَصُمْتَ مِنْ سُرَرِ شَعْبَانَ قَالَ لَا قَالَ فَإِذَا أَفْطَرْتَ فَصُمْ يَوْمَيْنِ

Dari Imron bin Hushain radhiallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya atau kepada yang lainnya: Apakah kamu puasa Surar Sya’ban?
Dia menjawab: Tidak
Nabi bersabda: Jika kamu berbuka, maka puasalah dua hari. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kata Surar/Sarar Sya’ban, para ulama berbeda pendapat apakah awal, pertengahan atau akhir bulan tersebut. An Nawawi menjelaskan hal ini dalam Al Minhaj.
Pendapat yang kuat adalah: pertengahan dan akhir bulan.
Jika maksudnya adalah pertengahan, maka yang dimaksud adalah puasa al ayyam al bidh. Dan jika yang dimaksud adalah akhir bulan, maka yang dimaksud adalah bagi mereka yang biasa berpuasa sunnah, diizinkan untuk puasa di akhir Sya’ban.
Sya’ban adalah bulan Nabi menganjurkan untuk kita isi dengan banyak berpuasa. Jika tidak mampu berpuasa banyak, maka puasalah pada pertengahannya (13, 14, 15) Sya’ban.
  1. Bersihkan kemusyrikan & saling memaafkan

عن أبي موسى الأشعري عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن الله ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

Dari Abu Musa, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
Sesungguhnya Allah memeriksa (hamba) di malam pertengahan Sya’ban. Dia mengampuni seluruh makhluknya kecuali orang yang musyrik atau bertikai.” (HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani)
Ini satu-satunya hadits yang bisa dijadikan landasan untuk keutamaan malam nisfu Sya’ban.
Allah menurunkan ampunan bagi seluruh orang hamba beriman. Tidak ada amal tertentu yang diperintahkan untuk dilakukan pada malam tersebut. Ini adalah ampunan yang diturunkan Allah begitu saja, sebagai bukti Maha Pengampunnya Allah.
Hanya saja, kita harus membersihkan dari dua hal: Kemusyrikan dan Pertengkaran. Jika salah satunya atau keduanya masih ada dalam diri kita, maka ampunan itu akan terlewatkan.
Jadi, budaya meminta maaf menjelang Ramadhan, lebih bagus jika dilaksanakan sebelum pertengahan Sya’ban.
  1. Batas akhir membayar hutang Ramadhan yang lalu

Bagi yang mempunyai hutang di Ramadhan sebelumnya, diberi keluangan waktu untuk membayarnya hingga bulan Sya’ban tahun berikutnya. Hal ini dilakukan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha,

عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ الشُّغْلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aisyah radhiallahu anha berkata,
Saya mempunyai hutang puasa Ramadhan. Saya tidak mampu menggantinya kecuali pada Bulan Sya’ban dikarenakan kesibukanku (melayani) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, semboyan orang beriman di Bulan Sya’ban: Berlatih dan Memperbanyak amal.
Jika dua bulan; Rajab dan Sya’ban kita siapkan sebaik mungkin, maka Ramadhan akan menjadi sangat istimewa. Karena Ramadhan adalah gabungan antara meninggalkan dosa dan hal-hal yang membatalkan Ramadhan dan melakukan amal sebanyak-banyaknya.
Rajab mengajarkan separo yang pertama, sementara Sya’ban mengajarkan separo yang kedua.
Kesimpulan: Apa yang harus dilakukan bagi kita dan keluarga kita untuk menyiapkan diri menghadapi Ramadhan?
  1. Persiapkan ilmu
  2. Rajab: Bulan menahan diri dari dosa
  3. Sya’ban: Bulan melatih diri untuk beramal sebanyak mungkin
  4. Banyak berpuasa di Bulan Sya’ban
  5. Jika tidak mampu berpuasa banyak di Sya’ban, maka puasalah pada al ayyam al bidh (13, 14, 15) Bulan Sya’ban
  6. Sebelum pertengahan Sya’ban pastikan kemusyrikan telah bersih
  7. Sebelum pertengahan Sya’ban pastikan telah terlerai pertengkaran
  8. Segera bayar hutang Ramadhan
Ya Allah

Sumber:cahayasiroh.com