“Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (Yusuf:108).

Jama'ah Penuh Berkah

Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.

Bekerja Untuk Ummat

Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (9:105)

Inilah Jalan Kami

Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik. (12:108)

Yang Tegar Di Jalan Dakwah

Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.

Kesungguhan Membangun Peradaban

Semua kesungguhan akan menjumpai hasilnya. Ini bukan kata mutiara, namun itulah kenyataannya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang diusahakan dengan sepenuh kesungguhan.

Minggu, 25 Desember 2011

MESIR UNGKAP UPAYA MOSSAD BOBOL JARINGAN KOMUNIKASI

Otoritas Keamanan Mesir mengungkapkan bahwa intelejen Zionis-Israel, Mossad telah berusaha menembus jaringan telekomunikasi dan jaringan telpon seluler Mesir. Upaya ini telah dilakukan Mossad sebanyak 28 kali, sejak pecahnya revolusi 25 Januari hingga awal bulan Desember lalu.

Menurut keamanan Mesir, Mossad bertujuan ingin menyadap setiap jaringan telepon pejabat-pejabat besar Mesir, pihak oposisi dan koalisi-koalisi pemuda revolusi.
Namun, tegas keamanan Mesir, jaringan telekomunikasi Mesir berhasil dikontrol dan diperkuat perlindungannya. Mesir sudah mengembangkan sistem keamanan untuk jaringan bawah tanag dan udara dengan menggunakan teknologi terbaru.

Lebih lanjut, keamanan Mesir menjelaskan bahwa usaha Mossad untuk menembus jaringan telekomunikasi Mesir sudah dimuali sejak awal tahun 2000.

Pada tahun 2006, Mossad telah menggunakan teknologi modern yang bekerja di satelit dan dapat menembus jaringan telekomunikasi dengan mudah, dengan demikian dapat melacak setiap pembicaraan di telepon. Namun, pihak keamanan yang bekerja sama dengan perusahaan telekomunikasi berhasil menggagalkan usaha Mossad tersebut.

Sejak pecahnya revolusi 25 Januari lalu hingga Desember ini, Mossad tercatat telah berusaha membobol jaringan komunikasi Mesir sebanyak 28 kali.

Perlu dicatat, rakyat Mesir masih tidak mengakui perjanjian Camp David, perjanjian damai dengan Zionis Israel yang sudah berumur lebih dari 30 tahun. Rakyat Mesir juga menolak normalisasi hubungan dengan Zionis Israel, dan bahkan menganggapnya sebagai musuh utama negara.
Atas dasar itulah, Zionis terus berusaha untuk menembus jaringan telekomunikasi Mesir, supaya bisa memata-matai pejabatnya.
Selain itu, kemenangan kelompok Islam dalam Pemilu parlemen Mesir kali ini juga menjadi kekhawatiran utama Zionis Israel. Demikian dikutip Islammemo.*

ILMU DULU BARU AMAL

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. (Muhammad [47]: 19). Mukaddimah
Ayat ini terdapat dalam surat al-Qital (perang) atau lebih terkenal dengan sebutan surat Muhammad. Disebut al-Qital, sebab di dalamnya banyak mengisahkan tentang syariat perang. Surat ini termasuk Madaniyah (surat yang turun setelah peristiwa hijrah ke Madinah).
Dalam riwayat lain, perintah fa’lam dimaknai sebagai perintah untuk tetap istiqamah dalam berislam. Hal ini terkait ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) mendapat kabar tentang keadaan kaum kuffar dan mukminin, ia lalu memerintahkan para sahabat untuk tetap tsabat (kokoh) di atas jalan keimanan, senantiasa merawat keikhlasan dan terus beristighfar dalam meniti perjuangan keimanan ini. (Tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Imam al-Qurthubi).
Makna Ayat
Meski ayat ini berisi perintah kepada Nabi SAW, tapi sesungguhnya ibrah (pelajaran) yang terkandung tetap berlaku bagi seluruh orang beriman.
Ayat ini memerintahkan Nabi SAW akan dua hal utama dalam berislam: menuntut ilmu dan istighfar (memohon ampun) kepada Allah. Dalam perspektif Islam, iman dan ilmu adalah hal yang tak terpisahkan. Keduanya saling terkait dan menguatkan satu sama lain. Seseorang tak bisa mencapai derajat iman (yakin) dalam hidupnya jika ia tidak memiliki ilmu yang memadai. Tetapi ilmu yang dipunyai bisa berubah menjadi bumerang dan fatal, jika pengetahuan dan kepintaran itu tidak didasari dengan keimanan yang kuat. Alih-alih menjadi ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, tapi ilmu itu malah bisa menghancurkan dirinya dan merusak orang lain.
Realitas di tengah masyarakat menjadi cermin utuh ketika dua pilar tersebut tidak bersinergi dalam diri seorang Muslim. Dengan mudahnya seorang Muslim yang awam rela menukar keyakinannya hanya dengan segelintir tawaran murahan saja. Di sisi lain, tak sedikit perbuatan tak bermoral justru lahir dari mereka yang selama ini sangat paham tentang ilmu itu sendiri. Mereka yang melakukan perbuatan menyimpang hukum adalah kumpulan orang-orang yang sangat mengerti teori hukum tersebut. Inilah ironi ketika ilmu tersebut tak bermodal keimanan. Ilmu itu akan tumbuh liar tak terkendali tanpa bisa dikekang oleh pemiliknya.
Ilmu dan Tauhid
Sufyan bin Uyainah, seorang ulama salaf yang kesohor dengan keluasan ilmunya menjelaskan, pada ayat ini Allah mengisyaratkan adanya sinergi ilmu dan iman itu. Kata fa’lam (perintah berilmu) tidak lain diiringi kata setelahnya wastaghfir (perintah beramal). Hal itu juga terlihat dalam banyak ayat ketika Allah menggandeng perintah berilmu dan beramal. Sebut saja misalnya, dalam surah al-Hadid [57] ayat 20 dan 21. “I’lamu” (perintah berilmu) dan “sabiqu” (perintah beramal) dan surah al-Anfal [8] ayat 41. “Wa’lamu” (perintah berilmu) dan “fa anna lillahi khumusahu” (perintah beramal). (Tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Imam al-Qurthubi).
Dengan paradigma di atas, maka tak heran jika Nabi SAW menegaskan kalau setiap Muslim tak bisa lepas dari menuntut ilmu. Ia hukumnya wajib tanpa bisa ditawar lagi. Sedang ilmu yang paling pokok dipelajari tidak lain adalah ilmu tauhid. Hal ini tidak mengherankan, sebab kalimat inilah yang memisahkan seseorang dari garis keimanan dengan kekufuruan. Ilmu tauhid ini pula yang menjadi pondasi bagi setiap amalan seseorang hingga nantinya perbuatan yang ia kerjakan tidak sia-sia dan bernilai positif di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak.
Perbanyak Istighfar
Dalam ajaran Islam, istighfar tidak sekadar perintah dan kewajiban. Tapi ia sekaligus kebutuhan mutlak bagi seorang Muslim. Sebab, manusia yang terlahir dengan segala kelemahan dan keterbatasan tersebut, justru mendapat amanah yang paling berat dari Sang Khaliq Allah Ta’ala. Sebagai hamba, manusia punya kewajiban mengabdikan dirinya kepada Allah, sekaligus ia menjadi wakil (khalifah) dalam mengurus dunia dan kehidupan ini.
Dalam hal ini, Rasulullah SAW memberikan panutan yang sangat mulia, meski seluruh perbuatannya telah mendapat garansi ampunan selamanya, tapi hal itu tak menghalangi Rasulullah SAW untuk membasahi lidahnya dengan zikir istighfar. Sahabat Abu Hurairah meriwayatkan, jika Rasulullah SAW beristighfar hingga sebanyak tujuh puluh kali dalam sehari semalam. (Riwayat al-Bukhari).
Imam al-Qurthubi menjelaskan, setidaknya ada dua faidah dibalik perintah istighfar tersebut. Pertama, perbanyaklah istighfar atas segala kekhilafan yang kamu lakukan, baik disengaja maupun tidak disengaja. Kedua, perbanyaklah istighfar, sebab dengannya Allah berkenan menghindarkan seorang hamba dari perbuatan dosa dan maksiat.
Tak cuma itu, ucapan istighfar bahkan bisa menjadi amunisi utama seorang Muslim dalam menghancurkan tipu daya iblis selama ini. Abu Bakar as-Shiddiq menanggapi ayat ini dengan berkata: “Hendaklah kalian bertauhid dengan sungguh-sungguh dan beristighfar. Perbanyaklah keduanya, sebab iblis pernah mengakui keampuhan ucapan mulia itu. Ia berkata: ‘Saya membinasakan manusia dengan dosa-dosa, tetapi sesungguhnya mereka juga sanggup membinasakanku. Tak lain dengan ucapan la ilaha illallah (tauhid) dan istighfar. Ketika saya mengetahui hal tersebut, saya lalu menggelincirkannya dengan hawa nafsu. Alhasil manusia menyangka mereka telah mendapatkan hidayah sedang mereka tertipu.”
Tak Cukup Buat Diri Sendiri
Syariat Islam sebagai agama yang memperhatikan aspek sosial mengajarkan kepada umatnya untuk tidak bersikap ego dan hanya memikirkan diri sendiri. Karenanya, selain perintah untuk memohon ampun buat diri sendiri, Islam juga menyuruh untuk senantiasa mendoakan kebaikan bagi saudara yang lain.
Ayat ini juga menegaskan kemurahan Allah kepada umat Islam, tidak kepada umat sebelumnya. Dimana Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk mendoakan kebaikan bagi seluruh kaum Muslimin. Sedang Rasulullah SAW sendiri sudah mendapat jaminan langsung sebagai as-Syafi’ (pemberi syafaat) pada Hari Kiamat nanti. Rasulullah SAW adalah orang yang dijamin doanya dikabulkan oleh Allah.
Imam as-Sa’di menambahkan, sekiranya seorang Muslim diperintahkan memohonkan ampun bagi dosa-dosa saudaranya, maka tentunya perkara yang lebih utama adalah menasihati dan menolong mereka dalam kebaikan. Mencintai sesama Muslim layaknya ia cinta kepada dirinya sendiri. Seorang Muslim juga wajib membenci keburukan jika itu terjadi pada saudaranya, seperti ia tidak menginginkan keburukan itu terjadi pada dirinya sendiri.
Ketika syariat-syariat di atas terjalin dengan baik, maka dengan sendirinya ia menjadikan kekuatan kaum Muslimin semakin kokoh dan solid. Tak ada lagi pertentangan yang justru hanya memecah keutuhan dan kekuatan umat Islam. Sebab, orang yang sanggup mendoakan orang lain adalah orang yang sudah berhasil mengalahkan thagha (rasa sombong) dan ego yang ia miliki. Ia tak bisa mendoakan jika tidak berangkat dari hati yang bersih. *Masykur/Suara Hidayatullah

Jumat, 23 Desember 2011

BERKAH DI MUSIM PENGHUJAN

Oleh : Ust. Hatta Syamsudin
Musim penghujan telah tiba menyapa kita. Ada rasa gembira, juga terkadang muncul rasa was-was, mengingat ancaman bencana banjir setiap saat bisa melanda. Bagi kita kaum muslimin, musim penghujan harus menjadi momentum meningkatkan keimananan, sekaligus mengoptimalkan pahala dengan beribadah di dalamnya.  Yang pertama, adalah mensyukuri sepenuh hati turunnya hujan sebagai anugerah dari Allah SWT dan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Firman Allah SWT :  “dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau Lihat bumi kering dan gersang, Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur “ (QS Fushilat 39).

Kita tinggal di bumi Indonesia yang beriklim tropis, seharusnya merasa bersyukur karena mendapatkan limpahan hujan yang lebih banyak. Di belahan bumi yang lain, negara Sudan misalnya, hujan dalam setahun hanya turun beberapa kali pada bulan Agustus saja. Kita juga menghayati bagaimana dengan air hujan yang menyirami bumi itu, hari ini kita dapat menikmati dan mengkonsumsi aneka ragam makanan yang lezat bergizi. Karena itu semualah rasa syukur di musim hujan haruslah dipanjatkan. Imam Nawawi dalam kitab Al Adzkar menyebutkan : “Dianjurkan untuk bersyukur kepada Allah atas curahan nikmat ini, yaitu nikmat diturunkannya hujan”

Yang kedua, Selain meningkatkan keimanan dan rasa syukur, musim hujan hendaknya menjadikan momentum bagi kita untuk lebih mengkhusyukkan hati, takut dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Tidak selayaknya kita bertakabbur apalagi bermaksiat, sementara dihadapan kita hujan turun sebagai bukti keagungan Allah SWT. Rasa was-was dan gelisah saat hujan akan turun, juga ditampakkan oleh Rasulullah SAW sang tauladan. Ketika ibunda Aisyah terheran mengapa wajah beliau yang mulia begitu muram saat melihat awan mendung berarak mendekat, maka beliaupun menjelaskan : “Wahai Aisyah tidak ada yang memberi keamanan aku akan datangnya adzab  yang telah mengadzab suatu kaum dengan angin (kencang), padahal kaum tersebut melihat adzab itu lalu mereka mengatakan: 'Ini hanya mendung yang akan menurunkan hujan kepada kami’-QS. Al Ahqaf 24- (HR. Bukari dan Muslim).

Turunnya hujan yang lebat seharusnya mampu menghancurkan kesombongan dalam diri manusia, untuk diganti dengan rasa takut penuh pengharapan hanya kepada Allah SWT. Kita pun diajarkan saat hujan turun dengan lebat, untuk meminta keselamatan dengan berdoa : “Ya Allah turunkanlah hujan di daerah sekitar kami, bukan di daerah kami. Turunkanlah hujan di perbukitan, pegunungan, di lembah-lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan” (HR Bukhori Muslim)

Yang ketiga, musim penghujan membuka peluang pahala dengan mengoptimalkan beberapa ragam ibadah dan anjuran di dalamnya. Hal sederhana yang bisa dilakukan adalah memperbanyak doa saat turun hujan, yang termasuk dalam kategori waktu yang mudah dikabulkannya doa-doa kita.  Rasulullah SAW menganjurkan hal ini dengan jelas  dalam sabdanya : “Bergegaslah berdo’a di waktu-waktu yang mustajab, yaitu ketika bertemunya dua pasukan di medan pertempuran, ketika shalat hendak dilaksanakan, dan turunnya hujan”. (HR Baihaqi). Selain memperbanyak doa, dianjurkan pula mencari keberkahan dari air hujan yang baru turun sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dalam riwayat yang shohih, dan begitu pula dengan menggunakan air hujan untuk berwudhu. Rasulullah SAW memberi alasan mengapa beliau bersemangat merasakan berkah air hujan dengan mengatakan : “ karena ia (air hujan) baru saja tercipta dari sisi Tuhan-nya” (HR Muslim).

Selain itu semua, setiap ibadah yang kita rasakan berat menjalaninya -khususnya dalam musim hujan ini- namun tetap kita tunaikan, insya Allah bernilai pahala yang lebih dan berlipat-libat. Dalam riwayat Muslim Rasulullah SAW pernah mengajarkan pada para sahabat, amalan-amalan yang membuat derajat kita meningkat serta terhapus dosa-dosa, diantara amal tersebut adalah : menyempurnakan wudhu di saat yang berat atau dingin luar biasa. Akhirnya, Semoga kita semua mampu mewujudkan musim penghujan yang penuh keberkahan. Wallahu a’lam

Sumber : www.indonesiaoptimis.com

HAMAS, FATAH DAN JIHAD ISLAMI AKHIRNYA BERSATU DI BAWAH PLO

Para anggota gerakan Hamas Palestina dan Jihad Islam telah bergabung dalam Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), satu-satunya wakil sah rakyat Palestina di arena internasional, kata Kantor Berita Ma'an.
Didirikan pada tahun 1964, PLO memiliki status pengamat PBB dan terdiri dari sepuluh anggota gerakan dengan Fatah menjadi kekuatan politik utama.
Sepanjang 24-tahun sejarahnya, Hamas telah menolak untuk bergabung atau mengakui organisasi itu dan status internasionalnya.
Para pemimpin  kelompok politik Palestina, termasuk Hamas dan Fatah, sepakat pada Kamis untuk mengambil bagian dalam "mengaktifkan dan merekonstruksi" PLO.
"Kami sekarang dalam tahap dialog nasional," kata pemimpin Jihad Islam Khaled Al-Batsh Ma'an.
"Kami dalam kerangka kepemimpinan sementara, yang akan menangani restrukturisasi PLO, dan kami berharap akan berhasil."
Prakarsa Nasional Palestina (PNI), satu gerakan politik membela demokrasi sosial dan sekularisme serta mengaku dirinya sebagai satu "kekuatan ketiga demokrasi" lawan Fatah dan Hamas juga bergabung dengan PLO.
Kepala PNI Mustafa Barghouthi menyebutnya hal itu merupakan "hari bersejarah dalam kehidupan rakyat Palestina dengan pengembangan kepemimpinan nasional bersatu pada saat Hamas, Jihad Islam dan PNI bergabung dalam kerangka kepemimpinan PLO."
Israel mengecam langkah itu sebagai satu lagi kendala dalam proses perdamaian.
Mark Regev, juru bicara perdana menteri Israel, mengatakan bahwa jika pemimpin Palestina Mahmud Abbas "mencakup Hamas, jika dia berjalan menuju Hamas, berrarti dia berjalan menjauh dari perdamaian."
Keterpecahan bangsa Palestina menjadi kepentingan Israel, yang menduduki wilayah Palestina sejak perang 1967, dan tidak mendapat dukungan internasional.(antara)
 

TAHUN BARU, MOMENTUM PERUBAHAN

Tahun baru 1433 hijriyah sudah kita lalui dan tahun baru 2012 M sudah di depan mata. Beragam aktivitas yang telah kita lakukan pada tahun 1432 H. Mulai dari aktivitas untuk bekerja, untuk keluarga, dan untuk ritual ibadah makhdo. Sudahkah kita ber-muhasabah tentang apa saja dari aktivitas itu yang membawa kemanfaatan dan bernilai positif atau sebaliknya? Kemudian, apa saja aktivitas yang perlu diperbaiki, ditingkatkan, atau termasuk yang harus ditinggalkan. Saya kira hal-hal seperti itu yang merupakan esensi dari memaknai tahun baru hijriyah maupun masehi.
Akan tetapi, diantara kebiasaan kita dalam merayakan tahun baru, terutama tahun baru masehi di berbagai belahan dunia selalu berkonotasi pesta pora. Mayoritas masyarakat di seluruh belahan dunia menyambut tahun baru masehi dengan cara yang bisa dikatakan kurang bermakna seperti begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru, wayang semalam suntuk, dan lain-lain. Bahkan tidak jarang malam tahun digunakan sebagai ajang berbuat maksiat.
Tampaknya, kegiatan menyambut tahun baru masehi terkesan lebih banyak mendatangkan ke-mudharatan daripada ke-manfaatan. Terlepas dari pro kontra tentang perayaan tahun baru masehi, ada baiknya kita mengetahui bagaimana sejarah tentang tahun baru masehi? bagaimana hukum perayaan tahun baru masehi? serta bagaimana menyikapinya?

Menengok Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun baru masehi itu sebenarnya berhubungan dengan keyakinan agama Nasrani. Masehi adalah nama lain dari Isa Almasih dalam keyakinan Nasrani. Menurut catatan di Encarta Reference Library Premium 2005, orang pertama yang membuat penanggalan kalender (penanggalan matahari) adalah seorang kaisar Romawi yang terkenal bernama Gaisus Julius Caesar. Itu dibuat pada tahun 45 SM jika menggunakan standar tahun yang dihitung mundur dari kelahiran Yesus Kristus.
Tapi pada perkembangannya, ada seorang pendeta Nasrani yang bernama Dionisius yang kemudian memanfaatkan penemuan kalender dari Julius Caesar ini untuk diadopsi sebagai penanggalan yang didasarkan pada tahun kelahiran Yesus Kristus. Itu sebabnya, penanggalan tahun setelah kelahiran Yesus Kristus diberi tanda AD (bahasa Latin: Anno Domini yang berarti: in the year of our lord) alias Masehi. Sementara untuk jaman prasejarahnya disematkan BC (Before Christ) alias SM (Sebelum Masehi)
Pope (Paus) Gregory III kemudian memoles kalender yang sebelumnya dengan beberapa modifikasi dan kemudian mengukuhkannya sebagai sistem penanggalan yang harus digunakan oleh seluruh bangsa Eropa, bahkan kini di seluruh negara di dunia dan berlaku umum bagi siapa saja. Kalender Gregorian yang kita kenal sebagai kalender masehi dibuat berdasarkan kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan Nasrani. “The Gregorian calendar is also called the Christian calendar because it uses the birth of Jesus Christ as a starting date.”, demikian keterangan dalam Encarta.
Di zaman Romawi, pesta tahun baru adalah untuk menghormati Dewa Janus (Dewa yang digambarkan bermuka dua-ini bukan munafik maksudnya, tapi merupakan Dewa pintu dan semua permulaan. Jadi mukanya dua: depan dan belakang, depan bisa belakang bisa. Kemudian perayaan ini terus dilestarikan dan menyebar ke Eropa (abad permulaan Masehi). Seiring muncul dan berkembangnya agama Nasrani, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai satu perayaan “suci” sepakat dengan Natal. Itulah sebabnya mengapa kalo ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu: Merry Christmas and Happy New Year.

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi
Berdasarkan kaidah fiqih dalam ajaran agama kita, bahwa hukum asal suatu perbuatan adalah terikat dengan hukum syara’ (syariat Islam). Itu sebabnya, sebelum melakukan suatu perbuatan kita harus tahu apakah perbuatan tersebut dihukumi sebagai perbuatan yang dibolehkan, diwajibkan, disunnahkan, diharamkan atau dihukumi sebagai makruh.
Dari sejarah tahun baru masehi di atas diketahui, bahwa merayakan tahun baru masehi adalah bukan berasal dari budaya kita, kaum muslimin. Tapi sangat erat dengan keyakinan dan ibadah kaum Nasrani. Jadi melakukan sebuah perbuatan yang diniatkan untuk merayakan tahun baru masehi dihukumi haram oleh sebagian besar ulama.
Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firman Allah SWT dalam surat Al Furqan: 72.:
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Ulama-ulama Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan ar-Rabi’ bin Anas menafsirkan kata “az-Zuura” (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir.
               Itu artinya, kalau sampai seorang muslim merayakan tahun baru masehi berarti melakukan persaksian palsu terhadap hari-hari besar orang kafir. Naudzubillahi min dzalik. Padahal, kita sudah punya hari raya sendiri, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik ra, dia berkata, saat Rasulullah Muhammad SAW. datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar ('Ied) untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, "Dua hari untuk apa ini?" Mereka menjawab, "Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa jahiliyyah". Lantas beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya: Iedul Adha dan Iedul Fithri" (HR Imam Ahmad)
               Umar Ibn Khathab berkata: "Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka" . Umar ra. berkata lagi, "Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka" . Dalam keterangan lain, seperti dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ra, dia berkata, "Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festival seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka" ('Aun al-Ma'bud Syarh Sunan Abi Daud).
Berkaitan dengan larangan menyerupai suatu kaum (baik ibadahnya, adat-istiadatnya, juga gaya hidupnya), Rasulullah Muhammad SAW. bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR Imam Ahmad).
At-Tasyabbuh secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang berarti meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. At-Tasybih berarti peniruan. Dan mutasyabihah berarti mutamatsilat (serupa). Dikatakan artinya serupa dengannya, meniru dan mengikutinya. Tasyabbuh yang dilarang dalam al-Quran dan as-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka. Termasuk perilaku mereka dalam merayakan tahun baru masehi.

Tahun Baru, Momentum Perubahan
Sebenarnya awal tahun baru lebih cocok digunakan untuk ber-muhasabah (mengevaluasi diri). Dalam pandangan Islam, untuk mengevaluasi diri selama ini sudah ada tuntunannya dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah SWT:
 “Demi Waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS al-Ashr [103] 1-3)
Rasulullah SAW. bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR Ahmad)
Memang kita bisa merasakan bedanya peristiwa penyambutan tahun baru Masehi dan tahun baru Islam (Hijriyah). Tahun baru Islam disambut biasa-biasa saja, jauh dari suasana meriah, tidak seperti tahun baru Masehi yang disambut meriah termasuk oleh masyarakat muslim sendiri. Umat Islam, seharusnya menyikapi tahun baru ini dengan penuh kesadaran sambil introspeksi, merenungkan apa yang telah dilakukan dalam kurun waktu setahun yang telah berlalu.
Inti dari peringatan tahun baru adalah pada soal perubahan, maka ada baiknya momen pergantian tahun ini kita jadikan sebagai saat saat untuk merubah menjadi lebih baik. Itulah fungsi utama peringatan tahun baru. Ada 3 pesan perubahan dalam menyambut tahun baru , yaitu:
1. Hindari kebiasaan-kebiasaan lama / hal-hal yang tidak bermanfaat pada tahun yang lalu untuk tidak diulangi lagi di tahun baru ini.
2. Lakukan amalan-amalan kecil secara istiqamah, dimulai sejak tahun baru ini yang nilai pahalanya luar biasa di mata Allah SWT, seperti membiasakan shalat dhuha 2 raka’at, suka sedekah kepada fakir miskin, menyantuni anak-anak yatim, dan lain lain.
3. Usahakan dengan niat yang ikhlas karena Allah agar tahun baru ini jauh lebih baik dari tahun kemarin dan membawa banyak manfaat bagi keluarga maupun masyarakat muslim lainnya.
Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah orang yang beruntung, Siapa yang hari ini keadaannya sama dengan kemarin maka dia rugi, Siapa yang keadaan hari ini lebih buruk dari kemarin, maka dia celaka” (HR Hakim).
Orang yang pasti beruntung adalah orang yang mencari kebenaran, orang yang mengamalkan kebenaran, orang yang mendakwahkan kebenaran dan orang yang sabar dalam menegakkan kebenaran. Mengatur waktu dengan baik agar tidak sia-sia adalah dengan mengetahui dan memetakan, mana yang wajib, sunah, haram, mana yang makruh, dan mana yang mubah.
Itu artinya perubahan waktu ini harusnya kita jadikan momentum (saat yang tepat) untuk mengevaluasi diri. Jangan malah hura-hura bergelimang kesenangan di malam tahun baru. Itu sebabnya, Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan tentang dua hal yang menjadikan manusia lupa diri. Sabda beliau SAW.: “Ada dua nikmat, di mana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhari)
Sebab, kita tidak akan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita sudah meninggalkan dunia ini. Firman Allah SWT.:
Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi (Ar Rum: 57)
Di tahun baru ini selayaknya, kita sebagai muslim yang taat, mengintrospeksi diri dengan semua apa-apa yang telah kita perbuat, memilih semua bentuk amalan yang baik untuk tetap kita pertahankan dan kita tingkatkan porsi amalan yang baik untuk kita kerjakan, serta meninggalakan semua perbuatan yang tidak bermanfaat, baik untuk diri kita ataupun orang di sekitar kita.
Dapat kita simpulkan bahwa sebagai muslim hendaklah kita menyambut tahun baru ini dengan berbuat dan memperbaiki amalan-amalan kita di tahun lalu. Jatah umur manusia semakin hari semakin berkurang, maka sudah selayaknya kita mempergunakan kesempatan hidup di dunia ini dengan sebaik mungkin. Karena memang ajal manusia adalah rahasia Allah, dan jarum jam tidak akan pernah berbalik arah. Mudah-mudahan di tahun 1433 Hijriyah ini kita senantiasa dapat menjalaninya dengan baik dan amalan kita lebih meningkat dari tahun kemarin. Semoga, tahun baru hijriyah atau masehi adalah momentum peningkatan kita, peningkatan dari keburukan menjadi lebih baik, atau peningkatan dari yang sudah baik menjadi lebih baik lagi. Amiin Wallahua’lam.