“Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (Yusuf:108).

Jama'ah Penuh Berkah

Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.

Bekerja Untuk Ummat

Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (9:105)

Inilah Jalan Kami

Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik. (12:108)

Yang Tegar Di Jalan Dakwah

Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.

Kesungguhan Membangun Peradaban

Semua kesungguhan akan menjumpai hasilnya. Ini bukan kata mutiara, namun itulah kenyataannya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang diusahakan dengan sepenuh kesungguhan.

Selasa, 17 Januari 2012

RACUN-RACUN HATI : SALAH PERGAULAN

Oleh: Muhammad Shaleh Drehem, Lc.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits shahih bersabda,”Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberikan hadiah minyak wangi kepadamu, atau engkau akan membeli minyak wangi darinya, atau setidak-tidaknya engkau akan mendapatkan bau semerbak wangi (dari minyak wangi yang ia jual). Adapun bersama tukang pandai besi, engkau bisa terbakar karena apinya, atau jika tidak engkau pasti akan mendapati bau angus.”
Dalam sabda ini, Nabi menjelaskan manfaat yang akan kita dapatkan jika kita gemar berteman dengan orang yang baik. Sebaliknya, Nabi juga menjelaskan kerugian yang akan kita dapatkan jika kita berteman dengan orang yang buruk perangainya. Ini secara tidak langsung merupakan perintah dari Nabi agar kita memilih orang yang baik sebagai teman karib atau teman dekat kita. Sebaliknya, beliau melarang kita untuk menjadikan orang-orang yang jahat sebagai teman karib kita.
Para ulama sendiri membagi teman menjadi empat macam. Pertama, teman yang seperti makanan. Kita setiap hari pasti membutuhkan makanan. Tanpa makanan, kita akan mati. Makanan adalah sesuatu yang bisa membuat kita terus bertahan hidup. Demikian pula, kita membutuhkan teman yang seperti ini. Teman yang bisa menjaga kelangsungan hidup kita, baik secara jasmani maupun secara ruhani. Rekan kerja dan rekan bisnis kita adalah contoh teman yang bisa menjaga kelangsungan hidup kita secara jasmani. Ulama, pembimbing dan guru adalah contoh teman yang bisa menjaga kelangsungan hidup kita secara ruhani. Itulah teman-teman yang senantiasa kita butuhkan setiap saat.Kedua, teman yang seperti obat. Namanya obat pasti hanya kita perlukan saat sakit saja. Disamping itu, jenis obat yang kita konsumsi pun harus sesuai dengan sakit yang kita derita. Demikian pula takaran atau dosisnya pun harus tepat, tidak boleh berlebihan. Seperti inilah teman yang hanya kita butuhkan pada saat-saat tertentu saja. Tidak setiap saat kita membutuhkan kehadirannya. Demikian pula kita hanya perlu berhubungan dengannya seperlunya saja dan tidak boleh sampai berlebihan.
Teman macam pertama dan kedua inilah yang bisa kita jadikan sebagai teman karib atau teman dekat.
Ketiga, teman yang seperti penyakit. Tentu saja teman seperti ini tidak bisa kita jadikan sebagai teman karib. Akan tetapi, bukan berarti kita sama sekali memutus hubungan dengannya. Sebaliknya, kita memiliki kewajiban untuk berusaha menyembuhkannya. Sebagaimana penyakit ada yang ringan, ada yang sedang, dan ada yang parah, demikian pula teman yang satu ini. Keadaannya berbeda-beda dan bertingkat-tingkat. Namun bagaimanapun, ia tetap berpotensi menularkan penyakitnya kepada diri kita. Karena itu kita harus tetap berhati-hati ketika berinteraksi dengannya.
Keempat, teman yang seperti racun. Ini adalah teman yang mematikan! Sama sekali tidak ada kebaikannya bagi diri kita. Ia juga hampir-hampir tidak memiliki peluang lagi untuk berubah menjadi baik. Karena itu, kita harus ekstra waspada terhadap orang-orang semacam ini.
Pertemanan dengan orang-orang yang baik dan shalih akan menjadi pupuk bagi keimanan kita. Pertemuan dengan mereka akan menyegarkan dan meningkatkan keimanan kita. Nasihat-nasihat mereka ibarat siraman air di tanah yang tandus. Berbagai hal yang bermanfaat juga akan tercipta dari pertemanan dengan mereka.
Sebaliknya, pertemanan dengan orang-orang yang gemar bermaksiat dan dalam rangka kemaksiatan adalah fatamorgana. Pertemanan dengan mereka adalah pertemanan yang bersifat semu. Sekalipun di dunia ini pertemanan semacam ini bisa berlangsung akrab, akan tetapi pada hari kiamat kelak justru akan menjadi penyesalan. ”Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan Fulan sebagai teman akrabku.”
Ketika itu, satu orang dengan yang lainnya akan saling berlepas tangan. “Ketika orang-orang yang diikuti (kesesatannya) berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti (kesesatan temannya): ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka (teman-teman yang telah menyesatkan aku), sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.’ Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi penyesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS Al-Baqarah: 166-167)
Bahkan, pada hari kiamat itu orang-orang yang saling berteman dalam kemaksiatan akan menjadi musuh satu sama lain karena saling mempersalahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf: 67). [sumber: konsultasi syariah.net]

Senin, 16 Januari 2012

IKHLAS DALAM NIAT, HUKUM DAN KEUTAMAANNNYA (Bagian ke-3)

d. Allah menilai niat yang ada di dalam hati seseorang
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ رواه مسلم
dakwatuna.com - Abu Hurairah RA, Abdurrahman bin Sakhr berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, Allah tidak melihat tubuh dan rupamu. Akan tetapi, Dia melihat hatimu.” (Muslim)
Pelajaran dari Hadits:
  1. Pahala suatu amal sesuai dengan niat dan keikhlasan orang yang melakukannya.
  2. Seorang muslim harus memperhatikan kondisi hatinya, dan membersihkannya dari sifat-sifat yang dibenci Allah SWT.
  3. Perbaikan hati harus lebih diutamakan daripada perbaikan amal atau perbuatan.
e. Yang membedakan satu amal dengan yang lainnya adalah niat
وَعَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الرَّجُلِ يُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ رِيَاءً أَيُّ ذَلِكَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ متفق عليه
Abu Musa, Abdullah bin Qais Al-Asy’ari RA berkata, “Rasulullah pernah ditanya oleh sebagian sahabatnya tentang seseorang yang berperang karena berani (sifatnya yang pemberani), seseorang yang berperang karena fanatisme kebangsaan, dan seseorang yang berperang karena riya’ (agar dipuji orang lain). Manakah di antara niat tersebut yang termasuk jihad di jalan Allah?” Rasulullah SAW menjawab, “Barangsiapa yang berperang untuk menegakkan kalimat Allah sebagai kalimat yang paling tinggi, maka dia berada (berjihad) di jalan Allah.” (Muttafaq ‘alaih)
Pelajaran dari Hadits:
  1. Allah akan melihat amal seseorang dari niatnya.
  2. Keutamaan orang yang berjihad hanya terbatas bagi mereka yang berjihad untuk menegakkan kalimat Allah.
  3. Orang yang meninggal di medan jihad, diperlakukan layaknya orang yang mati syahid, tidak dimandikan, tidak dikafani, dan tidak dishalatkan, tapi langsung dikubur. Sedangkan niatnya, diserahkan kepada Allah.
وعن أبي بكرة نفيع بن الحارث الثقفي رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ ِ متفق عليه
f. Manusia dibangkitkan dari kuburnya pada hari kiamat dengan niatnya sewaktu di dunia
Abu Bakrah, Nufail bin Al-Harits Ats-Tsaqafi RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila ada dua muslim bertemu dengan membawa pedang (berusaha saling membunuh), maka orang yang membunuh dan yang dibunuh masuk neraka.” Aku (Nufail) berkata, “Ya Rasulullah, si pembunuh (sudah layak masuk neraka), sedangkan orang yang terbunuh, (mengapa ia juga masuk neraka)?” Rasulullah menjawab, “Karena ia juga ingin membunuh temannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Pelajaran dari Hadits:
  1. Orang yang bertekad melakukan maksiat, dan sudah berusaha untuk melakukannya, maka ia mendapat dosa, baik kemaksiatan tersebut sudah ia lakukan maupun belum. Namun, jika kemaksiatan itu sekadar terlintas di pikirannya, lintasan kemaksiatan itu tidak terhitung sebagai dosa.
  2. Peringatan dari Allah kepada kaum muslimin agar tidak saling membunuh karena hal itu akan menjadikan kaum muslimin lemah, juga mengundang kemarahan Allah SWT.
– Bersambung

BERFIKIR, BERTINDAK DAN BERDOA

Bahwasanya kita hanya mampu berpikir, melakukan dan berdoa. Itu saja, tak lebih.
Allah tak akan menolong hambaNya, selama hambaNya itu hanya memenuhi hari-harinya dengan berbagai pikiran dan khayalan tanpa ada satu pun perbuatan untuk mewujudkannya. Melakukan sesuatu akan menjadi tak sempurna jika tak ada rencana yang terpikirkan terlebih dahulu. Allah pun akan melihat kesungguhan hambaNya untuk melakukan suatu usaha jika hambaNya mengiringi usahanya tersebut dengan berdoa.
Jangan pernah melelahkan diri dengan menengadahkan kepala kita untuk melihat puncak terlalu lama, sedangkan jalan setapak tempat kita berdiri terasingkan dari tapak kita.
Suatu saat saya berpikir untuk menjadi seorang pengusaha dengan pengalaman yang nihil. Saya pun sempat lelah oleh berbagai pikiran-pikiran tentang kesuksesan, padahal belum sekecil pun saya melakukan usaha. Ketika saya lelah dan hampir menyerah, saya berdoa dan di lubuk hati terdalam saya tetap memiliki keinginan untuk menjadi pengusaha suatu hari nanti. Tanpa di sadari, saya mulai melakukan suatu yang saya sukai yang ternyata memiliki nilai jual. Saya memiliki keterampilan untuk membuat handmade, saya pun mampu menulis, Meskipun belum seberapa atau jauh dari harapan, bukan hal yang besar bagi saya. Saat saya mampu melakukan hal tersebut walaupun kecil itu lebih berarti bagi saya daripada hanya memikirkannya terus menerus tanpa kerja nyata. Yang terpenting adalah terus berusaha tanpa henti.
Sempat tak menyangka dengan apa yang telah saya lakukan. Ternyata benar. Allah selalu menolong hambaNya yang berusaha untuk merubah nasibnya sendiri. Bahkan tanpa terpikirkan sebelumnya oleh kita.
Setiap kita memiliki potensi yang luar biasa dari Allah. Meski seringnya kita tak menyadari, terlebih mengacuhkannya. Setiap kita pula selalu memiliki sejuta imajinasi dan karya tapi setiap kita tak selalu mengeluarkan imajinasi dan karya kita tersebut. Karya yang membuat kehidupan menjadi lebih berarti. Membuat kita lebih menghargai hidup dan berpikir, kita masih memiliki manfaat untuk kita berikan kepada orang lain. Walaupun hanya berupa semangat dan tekad.
Bahwa hal yang besar pasti berasal dari sesuatu yang kecil. Jangan pernah malu melakukan sesuatu meskipun belum terlihat hasilnya. Tetap yakin dan berusaha. Jangan terpaku pada sebuah tujuan. Tetap jalani apa yang ada di depan mata, melakukan hal terbaik yang bisa di lakukan. Tujuan cukup menjadi sebuah acuan, lalu abaikan.  Yang terpenting adalah sebuah proses. Bagaimana kita melakukan sesuatu yang belum pernah di lakukan dan di pikirkan. Lebih lelah dan tanpa kenyamanan. Nikmati saja semua itu. Bukankah semua kesuksesan membutuhkan pengorbanan yang lebih di banding sesuatu yang biasa. Dan kesuksesan bukan pula barometer yang tercermin dari sebuah penghargaan dan applause dari orang-orang, tapi kepuasan diri ketika melakukannya dan pemberian manfaat kepada orang lain. Berbagi dalam sebuah kebahagiaan. Karena Allah. Karena ingin memaksimalkan potensi yang di berikannya.
Dengan begitu, akan terminimalisir satu karakter manusia yaitu mengeluh. Kita akan lebih banyak bersyukur dan menemukan hal-hal baru yang lagi-lagi hanya membutuhkan ucapan syukur tanpa keluhan. Lebih berpikir positif dan memandang hidup lebih luas. Menerima segala kritikan dengan lapang dada.
Suatu keindahan berusaha yang di niatkan karena Allah, bersyukur kepadaNya dengan memaksimalkan potensi yang di miliki. Jangan pernah berpikir mengenai kekurangan. Tapi munculkan berjuta kelebihan yang telah Allah titipkan. Karena Allah tiada menciptakan makhlukNya kecuali dengan berbagai manfaat dan sebagai khalifah di muka bumi.
Allahua’lam.

RUMAHKU ADALAH SURGAKU

Keluarga sakinah akan terbentuk jika setiap anggota keluarga bisa merasakan rumahnya bagaikan surga (baiti jannati). Oleh karena itu, sakinah menjadi kebutuhan kita semua. Sebab, sakinah adalah konsep keluarga yang dapat memberikan kenyamanan secara psikologis meski kadang secara fisik tampak jauh di bawah standar nyaman.

Kunci keluarga sakinah adalah membangun ‘baiti jannati’ yang mampu memberikan kenyamanan bagi setiap anggota keluarga di dalamnya. Dan kenyamanan dalam keluarga hanya dapat dibangun secara bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga.

Ia tidak bisa bertepuk sebelah tangan. Melalui proses panjang, setiap anggota keluarga saling menemukan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mereka saling menerima segala kekurangan dan berusaha memperbaikinya. Mereka saling memberi dengan segala kelebihannya dan saling melengkapi segala kekurangan.

Keluarga menjadi sekolah yang tiada batas waktu. Proses pembelajaran terjadi terus menerus untuk menemukan formula yang lebih tepat bagi semua pihak, baik suami-istri, maupun anak-orangtua.

Rumah juga menjadi panggung yang menyenangkan untuk sebuah pentas cinta kasih yang diperankan oleh setiap penghuninya. Rumah juga menjadi tempat sentral kembalinya setiap anggota keluarga setelah melalui pengembaraan panjang di tempat mengadu nasibnya masing-masing.

Rumah yang mereka rasakan sebagai surga, karena yang ada hanya cinta dan kebaikan. Setiap hari jatuh cinta. Anak selalu merindukan orang tua, demikian pula sebaliknya. Kebaikan menjadi pakaian sehari-hari keluarga, sehingga dapat terus melaju menempuh badai sebesar apapun.

Betapa indahnya kehidupan ketika ia hanya berwajah kebaikan. Betapa bahagianya keluarga ketika ia hanya berwajah kebahagiaan. Masalah keluarga yang banyak melilit kehidupan masyarakat adalah rumah sudah tidak lagi nyaman sebagai tempat kembali.

Suami tidak lagi menemukan suasana nyaman di dalam rumah, begitu juga istri. Bahkan, anak-anak lebih mudah menemukan suasana nyaman di luar rumah. Rumah bukan surgaku lagi, tetapi sebuah neraka kecil. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa: “Setiap manusia pernah berbuat salah. Orang salah yang paling baik adalah yang bertaubat”.

Jadi ketika ada anggota keluarga yang berbuat salah, tidak lantas menutup jalan baginya untuk membentuk keluarga sakinah. Siapapun bisa membentuk keluarga sakinah, kuncinya adalah berpegang teguh pada tali agama Allah dengan istiqomah (konsisten). Yaitu berpegang teguh pada Alquran dan Hadits.
 
*) Ayuning Dyah, ibu dari 2 anak, tinggal di Serang, Banten
Dikutip dari PKS Pesanggrahan

MUFTI SAUDI : JANGAN ZALIMI PEMBANTU DAN SOPIR

Mufti Am dan ketua Majelis Ulama Kerajaan Arab Saudi, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syeikh memperingatkan semua pihak agar jangan berlaku zalim terhadap pembantu dan sopir pribadi.

Hal tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat yang disampaikan Jumat kemarin di Jami Kabir, Riyadh. Selengkapnya beliau berkata, "Termasuk bentuk kezaliman adalah kezaliman terhadap para pembantu dan para pekerja, di antaranya dalam bentuk membebani pekerjaan yang tidak mampu mereka tanggung, mengancam memotong gaji mereka atau menunda-nunda pemberian gaji hingga berbulan-bulan."
Dalam kesempatan tersebut beliau memperingatkan orang-orang yang menzalimi para pembantu dan sopir, agar takut terhadap doa orang yang terzalimi, sebab doa mereka tidak ada penghalang antara dia dengan Allah dan bahwa doa orang yang terzalimi akan terkabulkan. Allah Ta'ala telah mengabarkan kepada kita bahwa Dia akan mengabulkan doa orang yang terzalimi terhadap orang yang menzaliminya.

Berikutnya Mufti Am meminta kepada setiap warga, perusahaan-perusahaan, atau tempat-tempat usaha untuk menghormati hak-hak serta kemanusiaan para pekerja dan pembantu serta para sopir yang bekerja di rumah-rumah atau perusahaan-perusahaan mereka. Beliau mengingatkan bahwa menzalimi mereka atau mengurangi hak-hak mereka atau membebani mereka pekerjaan di luar kemampuan mereka, tidak dibolehkan secara syariat.

Beliau juga menekankan agar mereka komitmen terhadap akad perjanjian kerja. Beliau menganggap bahwa sikap menunda-nunda pemberian gaji atau bersikap keras saat berinteraksi dengan mereka, merupakan sikap mempermainkan mereka dan kemaksiatan yang tidak dibolehkan.

Beliau pun menambahkan bahwa sebagian kafil (majikan) atau pemilik perusahaan bersikap acuh dan tidak menganggap orang-orang lemah dan miskin. Justeru mereka sering menggunakan kewenangan dan kekuatannya untuk mengancam mereka, menguasai mereka dan mengelebui mereka. Kadang ada di antara mereka yang memaksa para pekerja untuk menandatangani surat pernyataan bahwa mereka telah menerima semua hak-hak mereka padahal mereka belum menerimanya, atau memanfaatkan kelemahan dan kebodohan mereka untuk menandatangani perkara yang seharusnya tidak mereka tandatangani.

Beliau juga menjelaskan ada sebagian mereka (para majikan atau pengusaha) yang tidak memberikan hak-hak para pekerja yang paling dasar dan telah mereka sepakati seperti masalah kesehatan dan semacamnya. Ada pula yang memperdagangkan para pekerja, mereka menyewakan para pekerjanya dengan imbalan berlipat. Semua itu bertentangan dengan syariat Allah. Para pekerja dan pembantu adalah orang-orang merdeka, bukan budak yang dapat diperlakukan oleh para majikan semaunya. Beliau menekankan pentingnya memberikan hak-hak para pekerja tersebut secara utuh pada waktunya, tidak boleh menunda-nundanya.

Beliau menambahkan, bahwa wajib bagi masyarakat muslim mewujudkan ajaran Islam yang sesungguhnya, komitmen terhadap perjanjian, jujur, baik dalam memperlakukan orang. Tak lupa beliau ingatkan kaum wanita di rumah-rumah agar menghormat hak-hak para pembantu yang ada di rumah-rumah mereka dan memperlakukan mereka dengan terhormat.(Almoslim.net/abdullah.k)