“Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (Yusuf:108).

Rabu, 27 Juni 2012

BEKAL PERJALANAN PANJANG

Saudaraku…
Kita semua adalah musafir. Kita sadari atau tidak. Baik yang berada di negeri sendiri atau luar negeri. Musafir yang sedang mengadakan perjalanan hakiki. Bukan dari satu tempat ke tempat lainnya. Tetapi untuk perjalanan abadi dan tujuan hakiki. Yaitu, bahagia di kampung akherat.
Semakin jauh perjalanan yang kita tempuh, semakin banyak pula bekal yang harus kita siapkan. Semakin lamakita menginginkan mukim di daerah tujuan, maka persiapan yang kita lakukan juga semakin lama. Itu pun terkadang ada saja yang tertinggal.
Jika bekal dan persiapan matang yang sudah kita sediakan secara maksimal untuk perjalanan kita saja terkadang belum mencukupi kebutuhan dalam perjalanan. Apatah lagi bagi kita yang mengadakan perjalanan tanpa bekal cukup dan persiapan matang. Tentu, kita tak akan sampai pada tujuan. Atau malah berbalik arah dan mungkin mengambil arah lain untuk perjalanan kita.
Saudaraku..
Sekarang kita sedang mengadakan perjalanan menuju kampung keabadian, yakni kampung akherat. Perjalanan yang sangat jauh dan panjang. Di sanalah masa depan kita dipertaruhkan. Abadi dalam kebahagiaan. Atau sebaliknya kekal dalam siksaan.
Suatu hari Abu Dzar al Ghifari memberi nasihat kepada manusia di sekitar Ka’bah seraya berucap:
“Wahai manusia, jika salah seorang dari kalian ingin mengadakan perjalanan bukankah ia menyiapkan bekal yang mencukupi keperluannya dan menyampaikannya pada daerah tujuan?.”
Mereka menjawab, “Ya, tentu demikian.”
Abu Dzar melanjutkan, “Sesungguhnya perjalanan menuju hari qiyamat lebih jauh dari yang kalian duga, ambillah bekal yang cukup untuk safar kalian.”
“Apa bekal yang mencukupi keperluan kami?,” kata mereka.
Abu Dzar berkata, “Lakukanlah haji sekali seumur hidup, sebagai persiapan menghadapi persoalan yang besar. Berpuasalah walau sehari di hari yang sangat panas, sebagai bekal menghadapi hari kembali. Shalatlah dua raka’at di kegelapan malam, sebagai persiapan menghadapi kesunyian di alam kubur.
Perkataan yang baik, ucapkanlah. Perkataan yang buruk, tahanlah. Hal itu sebagai bekal menghadapi hari yang agung (di padang mahsyar).
Sedekahlah dengan hartamu, karena ia akan menyelamatkanmu di hari yang sulit.
Jadikanlah dunia menjadi dua majlis; majlis untuk mencari kebahagiaan akherat dan majlis untuk meraih rezki yang halal. Selain kedua majlis itu tidak bermanfaat bagimu dan bahkan memberikan mudharat bagimu. Tentu hal itu tidak engkau inginkan.
Jadikanlah harta menjadi dua dirham; satu dirham untuk menafkahi keluargamu dari yang halal. Dan satu dirham lagi engkau keluarkan untuk akheratmu. Selain kedua dirham itu tidak bermanfaat bagimu dan bahkan memberikan mudharat bagimu. Tentu hal itu tidak engkau inginkan.
Lalu dengan suara lantang, Abu Dzar menyeru, “Wahai manusia, cinta dunia telah membunuh kalian, yang dengannya kalian tak akan meraih kebahagiaan abadi di sana.”
Saudaraku..
Ada beberapa bekal perjalanan yang mesti kita siapkan menuju kampung keabadian, yakni akherat yang dinasihatkan Abu Dzar kepada kita. Yaitu; menunaikan kewajiban yang disimbolkan dengan haji. Memelihara amalan-amalan sunnah yang dilambangkan dengan puasa di hari yang panas dan shalat di tengah malam yang gelap. Menjaga lisan dari segala warna ketergelinciran. Tepat guna dan memaksimalkan harta untuk kebaikan serta benar dalam memlih majlis yang kita singgahi.
Haji melambangkan rukun Islam yang paling berat. Ia merupakan ibadah yang menghimpun seluruh kekuatan; ruhani, jasmani dan mali (finansial). Orang yang memiliki kekuatan ruhani tanpa didukung dua kekuatan lainnya, sulit ia mengunjungi baitullah. Fisik yang prima, tanpa diimbangi dengan kekuatan ruhani dan finansial, juga mustahil menunaikan haji. Finansial cukup tapi fisiknya lemah dan ruhaninya ringkih, justru lebih memilih berlibur ke Eropa dan seterusnya.
Haji merupakan jalan pintas menuju surga. “Haji yang mabrur itu tiada balasannya kecuali surga.” Muttafaq alaih.
Tidak berlebihan jika haji disejajarkan dengan jihad di jalan Allah . Karena keduanya sarat dengan godaan dan ujian. Keduanya menuntut keikhlasan yang sempurna.
Saudaraku..
Memelihara amalan-amalan sunnah, yang disimbolkan dengan puasa di tengah hari yang panas dan shalat di tengah malam yang gelap. Jika kedua amalan ini mampu kita lakukan, tentu amalan-amalan sunnah lainnya terasa lebih ringan dan mudah untuk diperbuat. Karena manusia secara umum biasa menghabiskan malam dengan istirahat, dan dalam suasana panas yang terik, selalu ingin dipuaskan dengan air dingin dan makanan ringan.
Bekal lainnya adalah memelihara lisan. Berbicara merupakan syahwat yang besar. Kita biasa berpuasa sehari dari makan dan minum, tapi kita belum tentu mampu berpuasa dari berbicara dalam sehari.
Jika kita tak mampu mengucapkan perkataan yang baik, benar, lurus, ma’ruf dan ucapan yang mendatangkan pahala. Lebih baik kita mengunci lisan kita. Agar tak mengucapkan kata-kata kotor, dusta, sia-sia, luapan amarah, mengandung birahi dan seterusnya. Karena ia akan merusak bekal kita yang lain.
Saudaraku..
Dua majlis yang semestinya selalu kita kunjungi adalah majlis ilmu atau majlis zikir. Dan yang kedua majlis yang mendatangkan rezki yang halal. Kedua-duanya tak bisa kita pisahkan.
Majlis zikir atau majlis ilmu, berperan sebagai petunjuk jalan menuju Allah swt. Agar arah perjalanan kita tepat dan jelas. Supaya tidak tersesat jalan.
Sedangkan majlis rezki yang halal, berpenghasilan cukup, ekonomi yang mapan dan yang senada dengan itu merupakan bekal hidup kita di dunia. Supaya kita memiliki kemuliaan di tengah-tengah manusia. Dan orang lain tidak merendahkan martabat kita. Juga supaya kita tidak bergantung kepada makhluk.
Saudaraku..
Memaksimalkan harta yang kita punya, untuk menafkahi keluarga dan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kita dan sisanya banyak kita sedekahkan.
Fenomena yang sering kita lihat adalah orang banyak melakukan sedekah, tapi nafkah keluarganya diabaikan. Atau sebaliknya, tidak sedikit orang yang hanya mementingkan keluarga, sementara orang-orang lemah yang ada di sekitarnya dibiarkan hidup di atas air mata kemiskinan. Dan yang terparah adalah harta yang kita punya, tidak untuk menafkahi keluarga dan tidak juga disedekahkan. Ke mana perginya harta kita jika demikian?. Wallahu a’lam bishawab.
Mudah-mudahan kita bisa memetik buah pelajaran dari nasihat Abu Dzar yang sangat berharga ini, amien ya Rabb.
Riyadh, 26 Juni 2012 M
Sumber:Status Ustadz Abu Ja’far

0 komentar:

Posting Komentar