“Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (Yusuf:108).

Senin, 18 Juni 2012

MENGUMPULKAN PUNDI-PUNDI KEBAIKAN

Saudaraku…
Salah satu kiat mengetuk pintu surga Allah Swt yang menjadi dambaan kita semua adalah menghimpun pundi-pundi kebaikan dan amal shalih. Karena ia merupakan bukti kelurusan dan kedalaman iman kita. Tiada iman tanpa amal shalih. Dan amal shalih tanpa iman adalah hampa bagaikan fatamorgana. Sia-sia tak berbekas di akherat sana.
Untuk itu, jika kita cermati ayat-ayat dalam al Qur’an, maka kita dapati antara iman dan amal shalih selalu disebut beriringan. Karena keduanya telah menyatu, tak mungkin dipisah-pisahkan antara yang satu dengan lainnya.
Allah Swt berfirman, “Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.” Al Baqarah: 82.
Banyaknya ukiran amal-amal shalih merupakan bukti kelurusan dan kedalaman iman kita. Sebaliknya keringnya amal dan kebaikan yang kita perbuat merupakan lambang rapuh dan ringkihnya iman dalam kalbu kita.
Saudaraku..
Ali bin Abu Thalib ra pernah menasihati kita,
“Kebaikan tak diraih dengan memperbanyak harta dan anak-anak. Tetapi kebaikan terhimpun dengan memperbanyak amal dan memperbesar mimpi serta bergegas bersimpuh di hadapan Rabb-mu.
Jika banyak kebaikan yang terukir, maka pujilah Tuhanmu. Dan jika sebaliknya, maka beristighfarlah kepada-Nya.
Tiada kebaikan di dunia, melainkan terdapat pada salah satu dari dua orang:
Seorang hamba yang melakukan dosa, lalu ia sadar dan segera mengiringi keteledorannya dengan taubat.
Atau seseorang yang bergegas melakukan kebaikan.”
(Mawa’izh as shahabah, karya; Shalih Ahmad Asy Syami).
Saudaraku…
Secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa pundi-pundi kebaikan dan amal shalih (dari nasihat Ali bin Abu Thalib ra) dapat kita himpun dengan cara berikut:
• Mengoptimalkan harta dan anak keturunan sebagai peluang dan modal amal-amal shalih kita.
• Memperbesar mimpi.
• Menjaga keharmonisan hubungan kita dengan sang Maha Pencipta.
• Evaluasi diri setiap hari.
• Bertaubat dari dosa.
• Memaksimalkan peluang kebaikan.
Saudaraku..
Tidak sedikit manusia yang mengukur suatu kemuliaan, kehormatan dan kedudukan di masyarakat diraih dengan harta dan anak keturunan. Artinya semakin banyak harta yang kita punya didukung dengan anak-anak yang sukses dan berprestasi dari sisi duniawi. Maka kedudukannya di masyarakat semakin terhormat dan mulia.
Padahal sejatinya harta dan anak-anak, merupakan perhiasan dunia yang menipu dan menyilaukan pemiliknya. Selama harta tak dibelanjakan dan diinvestasikan di jalan yang Allah ridhai. Jikalau anak-anak tak dididik dan diarahkan untuk menjadi abdi Rabb-nya dan menjadi generasi penerus bagi perjuangan orang tuanya.
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.” Al Kahfi: 46.
Saudaraku..
Memperbesar mimpi (baca; cita-cita) merupakan batu loncatan untuk mengukir prestasi di hadapan-Nya, inspirator untuk mendaki puncak ubudiyah. Untuk itu Nabi saw memberikan arahan kepada umatnya, jika kita bercita-cita meraih surga agar meraih tingkatan surga tertinggi. Yaitu; surga Firdaus.
“Sesungguhnya Firdaus itulah tempat (surga) terbaik dan tertinggi derajatnya. Di atas Firdaus terdapat Arsy Allah dan dari situ mengalir sungai-sungai surga. ” H.R; Bukhari.
“Surga itu memiliki seratus tingkatan, dan setiap tingkatan jaraknya antara langit dan bumi, yang paling tinggi adalah surga firdaus …… Jika kalian meminta kepada Allah (surga), maka mintalah kepada-Nya surga Firdaus.” H.R; Ibnu Majah.
Di dalam shahih Muslim disebutkan bahwa ketika Nabi saw mendengar cita-cita salah seorang sahabatnya yang bernama Rabi’ah bin Kaab al Aslami. Di mana ia bercita-cita menjadi tetangga beliau di surga, beliau berpesan, “Bantulah aku untuk memenuhi keinginanmu dengan memperbanyak sujud.”
Cita-cita luhur yang tak diimbangi dengan kesungguhan dalam meraihnya adalah angan-angan kosong dan lamunan semu. Untuk itu Imam Nawawi meletakkan hadits ini dalam kitab Riyadhus shalihin pada bab ‘mujahadah’ (bersungguh-sungguh). Karena untuk meraih surga dan bahkan menjadi tetangga Nabi saw di surga bukanlah perkara yang mudah dan ringan. Membutuhkan kesungguhan puncak. Salah satu cara yang beliau tuntunkan adalah memperbanyak sujud. Artinya memperbanyak ibadah kepada Allah Swt.
Saudaraku..
Menjaga keharmonisan hubungan kita dengan sang Maha Pencipta, dapat kita tempuh dengan jalan mengukir amal-amal rahasia. Yang hanya diketahui oleh kita dan kekasih sejati kita. Bangun di tengah malam untuk shalat tahajjud dan bermunajat serta berkhalwat dengan-Nya. Di saat manusia lain sedang asyik menikmati mimpi-mimpi indahnya.
Mengosongkan perut dengan puasa sunnah, kala orang lain kekenyangan. Menikmati pesan-pesan Rabbani dalam alunan ayat-ayat-Nya yang suci, kala orang lain terbuai dengan alunan musik dan senandung lagu yang melalaikan, sinetron yang mempertontonkan aurat dan seterusnya.
Tanpa amal-amal rahasia, mustahil kita meraih kedekatan dan cinta-Nya.
Saudaraku..
Biasakanlah sebelum tidur di malam hari, kita mengevaluasi diri atau bermuhasabah. Jadi kita bermuhasabah tidak hanya kita lakukan saat pergantian tahun. Atau sewaktu ada acara mabit bersama dan qiyamullail. Tapi kita jadikan muhasabah sebagai penutup hari-hari kita. Bukankah para pedagang biasa menghitung keuntungan atau barangkali kerugiannya setiap hari?
Jika di hari-hari yang telah lewat, banyak ukiran amal shalih dan kebaikan yang kita perbuat, maka biasakan lidah kita mengucapkan ‘al hamdulillah’. Memuji kebaikan-Nya atas kita. Karena tiada kebaikan yang kita perbuat dan tiada amal shalih yang mampu kita lakukan, melainkan dengan pertolongan dan taufiq dari-Nya. Maka kita kembalikan segala pujian kepada-Nya.
Namun, jika sebaliknya. Ada defisit amal shalih pada hari-hari yang telah kita lewati. Atau banyak peluang kebaikan yang terbuang percuma. Maka kita akui keteledoran dan kekurangan kita dengan ucapan ‘astaghfirullah’. Agar kita terbiasa mengakui kesalahan dan meminta maaf atas kekeliruan kita. Terlebih kepada Zat yang selalu melapangkan kebaikan dan menghamparkan kemudahan kepada kita.
Saudaraku..
Bukanlah aib kita melakukan kekeliruan, kekhilafan, kesalahan dan dosa. Karena kita adalah manusia. Summina insanan linisyanina, dinamakan manusia karena kealpaan kita. Artinya lupa dan salah memang tabiat dasar manusia.
Tapi yang menjadi aib adalah apabila kita lupa, salah, khilaf, keliru, dan tergelincir dalam perbuatan dosa dan maksiat, tapi kita tak mengakui kesalahan kita. Kita tak sadar dengan kekeliruan kita. Dan yang lebih berbahaya adalah pada saat kita justru menikmati dosa dan maksiat yang kita lakukan. Na’udzu billah min dzalik.
Jika demikian, berarti hati kita telah mati. Jiwa kita telah gelap dan hitam dengan maksiat.
Hati seorang mukmin yang sehat, adalah hati yang akan tersengat dan terbakar jika anggota tubuh lain melakukan dosa dan maksiat. Sehingga lisannya segera beristighfar, matanya berlinang, hatinya bergetar karena takut siksa-Nya dan anggota tubuh yang lain melakukan kebaikan dan pahatan amal shalih.
Taubat, idealnya menjadi profesi hidup kita. Di mana hari-hari kita, dihiasi taubat dan istighfar kepada-Nya. Kita beristighfar setelah melakukan ketaatan. Beristighfar kala meraih kesuksesan. Dan sudah barang tentu beristighfar setelah melakukan dosa dann maksiat.
Saudaraku..
Hidup di dunia ibarat perlombaan lari bagi kita. Siapa yang menyiapkan diri dengan baik. Dan membiasakan diri dengan latihan-latihan yang baik dan rutin. Ditambah dengan kesungguhan maksimal, insyaallah kita akan menjadi juara dan pemenang.
Terlebih kita sekarang sedang berlomba lari demi meraih kemenangan sejati. Yaitu keridhaan Allah dan surga-Nya.
Para sahabat telah mengerahkan segala kemampuan dan potensi yang dimiliki. Raga, harta, waktu, potensi dan bahkan jiwa mereka korbankan, demi meraih satu tiket di surga. Bagaimana dengan kita? Wallahu a’lam bishawab.
Riyadh, 12 Juni 2012 M
Sumber:Status Ustadz Abu Ja’far
(http://www.facebook.com/profile.php?id=100000992948094)

0 komentar:

Posting Komentar