“Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (Yusuf:108).

Minggu, 19 Februari 2012

REFLEKSI MAULID : RASULULAH SEBAGAI QUDWAH DAN USWAH

Segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan salam atas Rasulullah saw beserta keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan hingga  hari pembalasan.. selanjutnya:
Rasulullah saw datang membawa agama mulia yang menegakkan keadilan, mewujudkan kesetaraan, menghancurkan kezhaliman, meruntuhkan para thaghut, dan membangun umat yang mulia serta mengajarkan manusia pada prinsip-prinsip kebebasan dan persaudaraan… karena itulah pada masa awal sejarahnya umat manusia berada dibawah naungan keadilan, kesetaraan dan kasih sayang.. tanpa perpecahan walaupun beda warna, bangsa, kedudukan atau keyakinan. Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
(Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Al-Anbiya:107
Dan Allah menggabungkan dua sifat Nabi yang berasal dari nama-nama Allah SWT; bersimpati dan kasih sayang. Allah berfirman: 

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (At-Taubah:128)
Rasulullah saw tidaklah memberikan warisan kepada kita dalam bentuk harta (Dinar atau dirham).. namun beliau memberikan warisan berupa amanah kehidupan secara menyeluruh yaitu Islam dan meninggalkan kepada kita pembela kehidupan disepanjang masa yaitu Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah tali Allah SWT yang membentang dari langit dan bumi, satu sisi ada ditangan-tangan kita dan sisi lainnya ada ditangan (kekuasaan) Allah. Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah maka akan mendapatkan kemudahan jalan menuju Allah, dengan tali Allah manusia akan kuat. Sebagaimana pula Nabi saw meninggalkan kepada kita manhaj ilmiah dalam berbagai sisi kehidupan, barangsiapa yang mengikutinya akan selamat dari kesesatan menuju cahaya hidayah, hidup bahagia dan sejarah dan mendapat kemenangan berupa surga.
Dari Abu Hurairah ra berkata:
إِنِّى قَدْ خَلَّفْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا مَا أَخَذْتُمْ بِهِمَا أَوْ عَمِلْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِى وَلَنْ تَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَىَّ الْحَوْضَ
 ”Sesungguhnya Aku telah meninggalkan kepada kalian sehingga kalian tidak akan tersesat setelah kalian berpegang teguh kepada keduanya;  kitabulla dan sunnahku, dan tidak akan terbecah belah sehingga diberikan kepada Aku sebuah lembah” (Baihaqi)
Dan dakwah kita tergadaikan oleh dua unsur agung tadi dan dengan sirah para salafussalih -semoga Allah merahmati mereka semua-, Imam Al-Banna berkata: “Dakwah kita adalah islamiyah, dengan berbagai kondisi membawa satu kata yang memiliki makna, maka fahamilah sesuai dengan kehendak anda setelah itu, apa yang anda fahami hendaknya terikat dengan kitab Allah, sunnah Rasul-Nya dan sirah salafussalih dari umat Islam. Adapun yang berhubungan dengan kitab Allah adalah asas utama Islam dan penopangnya, sementara sunnah Nabi adalah pemberi penjelasan dan pensyarahnya, sementara sirah salafussalih adalah para pelaksana seluruh perintahnya dan penerus ajaran-ajarannya, mereka adalah contoh yang kongkret dan gambaran hidup terhadap perintah dan ajaran-ajaran Islam”. Jika ditanyakan: Kepada apa kalian menyeru? maka katakanlah: kami menyeru kepada Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, sedangkan pemerintahan ada bagian darinya, dan kemerdekaan adalah salah satu kewajibannya”.
Rasulullah adalah Al-Qudwah dan Al-Uswah
Bahwa diantara jalan tarbiyah yang besar pengaruhnya dalam jiwa adalah tarbiyah dalam bentuk ta’assi (mencontoh) dan al-Qudwah (meneladani)
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab:21)
Sirah Rasullah saw dan manhajnya adalah sebaik-baik pendidikan bagi setiap insan; seorang pemimpin, seorang politikus, seorang guru (pendidik), seorang suami dan seorang bapak. Beliau adalah contoh manusia yang sempurna bagi setiap orang yang ingin mendekati kesempurnaan dengan gambaran yang menakjubkan, oleh karena itulah sejak berdirinya dakwah ini diantara slogan kita adalah “Rasul adalah teladan kami” dan oleh karena itu pula Ikhwanul muslimin tidak menyeru kepada seorang pemimpinpun selain rasulullah saw. Slogan mereka adalah “Rasul adalah pemimpin kami”. Dan seorang muslim tidak mungkin mendapatkan kecintaan Allah kecuali dengan mengikuti petunjuk Rasulullah saw. Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Ali Imran:31)
Bahkan ketika sebagian ikhwan pada salah satu perkumpulan menyeru dan menyanjung ustadz Hasan Al-Banna, maka beliau sangat marah dan melarang untuk mengulanginya kembali dalam kondisi apapun.
Oleh karena itu, umat Islam wajib mencontoh Rasulullah saw, berakhlak dengan Al-Qur’an Al-Azhim, karena akhlak Nabi adalah Al-Qur’an, dan dengan ini pula mereka menghiasi diri dengan akhlak dan kebaikan-kebaikannya. Rasulullah saw bersabda:
إنما بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ حُسْنَ الْأَخْلاَقِ
“Tidaklah Aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak mulia” (Malik)
Dan Allah memujinya dengan firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Al-Qalam:4)
Beberapa Potret kehidupan Rasulullah saw yang dapat mencerahkan jalan hidup kita
Bahwa bangsa Arab dan umat Islam secara umum saat ini sangat membutuhkan akan cahaya yang terang benderang yang berasal dari cahaya dan petunjuk Nabi saw, melenyapkan kegelapan yang menyelimuti mereka, yang diiringi dengan memancarnya fajar kemerdekaan dan cahaya keadilan serta lahirnya kemuliaan dan kekuatan bagi umat ini. Berikut ini beberapa potret tarbawiyah dari kehidupan Rasulullah saw:
Sikap beliau saat meletakkan hajar aswad
Pada saat terjadi perselisihan diantara kabilah suku Quraisya siapa diantara mereka yang berhak meletakkan hajar aswad, mereka bersepakat bahwa orang yang berhak memberikan keputusan perkara mereka adalah orang yang pertama kali masuk pada salah satu pintu masuk masjid dan berasal dari kalangan Bani Hasyim, Dan Nabi adalah orang yang pertama kali masuk pintu tersebut, maka merekapun berkata: “Ini dia Muhammad, dia adalah sosok yang jujur dan dipercaya, kami ridha dengan keputusannya, maka beliaupun akhirnya melakukan tugasnya, beliau membentangkan sorbannya dan meletakkan hajar aswad di atasnya, dan beliau meminta empat pemimpin dari setiap kabilah untuk memegang setiap ujung sorban tersebut, sehingga mereka semua ikut mengangkatnyq, dan setelah itu beliau dengan tangannya yang penuh berkah beliau meletakkan hajar aswad ditempatnya semula. Akhirnya mereka puas dengan kejujuran dan kepercayaan Nabi saw, dan para kabilahpun cukup puas dengan keputusannya dan merasa diperlakukan dengan adil dalam keputusannya.
Sungguh, kita saat ini sangat membutuhkan sikap jujur dihadapan umat manusia; baik dalam ucapan maupun perbuatan, menjadi orang yang amanah (dapat dipercaya) untuk kemaslahatan umat dan bangsa, bersungguh-sungguh menegakkan keadilan, sehingga tidak ada tempat setelah ini bagi orang yang berdusta dan membohongi umat dan bangsanya sendiri, tidak ada kerelaan setelah ini kepada orang yang berkhianat terhadap amanah yang diberikan oleh bangsa untuk ditunaikan… atau melakukan kecurangan dan kejahatan pada jabatan mereka, melakukan kezhaliman terhadap bangsa atau menyia-nyiakan dan mengabaikan hak-hak bangsa mereka.
Harus ada kebijakan pada satu kesepakatan antara faksi-faksi yang beragam, berusaha untuk menyatukan barisan sebagai asas utama menuju kebangkitan umat dan menegakkan bangunan suatu negara.
Kami senantiasa membawa kebaikan bagi umat manusia
Islam selalu mengajak pada perbuatan baik, berkorban dengan sesuatu yang baik untuk manusia, dan hal tersebut merupakan perangai dan akhlak terpuji Rasulullah saw; dimana siti Khadijah pernah mensifati beliau dengan ungkapan:
أَبْشِرْ فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا وَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
“Sekali-kali tidak, bergembiralah, demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya! sesungguhnya engkau pasti akan menyambung silatrrahim, berkata yang benar, menanggung kepayahan, memuliakan tamu, menolong orang membutuhkan pada kebenaran”. (Muslim)
Ini adalah salah satu sisi dari sifat beliau sebelum dibangkitkan, memberikan kebaikan di tengah masyarakat yang beliau hidup di dalamnya, dan ketika beliau hijrah maka pertama yang beliau ucapkan adalah:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلاَمَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ، وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ
“Wahai manusia tebarkanlah salam, berikanlah makan, jalinlah silaturrahim, tunaikanlah shalat malam saat manusia tertidur pulas niscaya kalian dapat masuk surga dengan penuh keselamatan”. (Ibnu Majah)
Karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha memiliki sifat ini, menyebarkan salam dan memberikan kebahagiaan ke dalam hati-hati manusia, memenuhi kebutuhan mereka, mengeratkan tali ikatan dan saling menolong diantara umat Islam, memperkokoh tali hubungan kepada Allah, khususnya di tengah kegelapan malam.. membentengi mereka dari perpecahan dan pertikaian yang dapat menyebabkan kegagalan dan kehancuran.
Semua itu, umat kita sangat membutuhkannya, dan pintu kebaikan sangatlah luas di dalamnya, untuk dapat memahami usaha para ulama yang ikhlas yang sangat mencintai negeri mereka dan bekerja untuk menuju kebangkitannya.. memberikan kebaikan bagi umat manusia tanpa memandang perbedaan.
Dalam tafsir Fakhrurrazi saat menafsirkan firman Allah:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُم
“Engkau tidaklah mampu memberikan petunjuk kepada mereka” (Al-Baqarah:272)
Disebutkan:”Bahwa engkau tidaklah mampu memberikan petunjuk pada orang yang menentangmu sehingga menghalangi memberikan sedekah agar mereka mau masuk Islam, maka bersedekahlah kepada mereka karena Allah, jangan berhenti untuk melakukan demikian hanyak karena keislaman mereka, bandingannya adalah firman Allah:
لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil”. (Al-Mumtahanah:8)
Semangat untuk tetap teguh dan menebarkan optimisme
Diantara sunah yang senantiasa terus berlangsung adalah perseteruan antara al-hal dan al-batil, adanya ujian dan penyeleksian para pembawa kebenaran, namun kemenangan tetap akan berpihak pada kebenaran walaupun pada jaulah terakhir, dan kewajiban mereka adalah agar senantiasa tsabat, yakin akan dukungan Allah yang akan memberikan kejayaan dan menghilangkan mereka dari rasa takut dan memberikan ketenteraman di tanah air mereka.. Allah berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa”. (An-Nur:55)
وعَنْ خَبَّابِ بْنِ الأَرَتِّ، قَالَ: شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الكَعْبَةِ، قُلْنَا لَهُ: أَلاَ تَسْتَنْصِرُ لَنَا، أَلاَ تَدْعُو اللَّهَ لَنَا؟ قَالَ: “كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ، فَيُجْعَلُ فِيهِ، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرَ، حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللَّهَ، أَوِ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ
Dari Khabbab bin al-Arat ia berkata, “Kami mengadu kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam saat beliau menjadikan kain selimut beliau sebagai bantal di sisi ka’bah. Kami katakan kepada beliau, ‘Mengapa engkau tidak memintakan pertolongan (kepada Allah) bagi kami? Mengapa engkau tidak berdoa kepada Allah untuk kami?’ Beliau menjawab, ‘Di antara umat sebelum kalian ada seseorang yang digalikan lubang untuknya, lalu ia dimasukkan ke dalamnya, diambillah sebilah gergaji, dan kepalanya pun digergaji di bagian tengahnya. Namun hal itu tidak menyurutkannya dari memegang agamanya kuat-kuat. Lalu diambillah sisir dari besi dan disisirkan pada kepalanya sehingga kulitnya terkelupas dan tampaklah tengkorak kepalanya. Namun hal itu pun tidak membuatnya bergeser dari agamanya. Demi Allah, bersabarlah, kalian, karena Allah akan menyempurnakan agama ini sampai ada orang yang berjalan dari Shan’a menuju Hadramaut, ia tidak takut akan sesuatu pun selain Allah atau serigala yang hendak menerkam kambing-kambingnya. Sungguh, kalian terlalu tergesa-gesa.” (Bukhari)
Dari pemahaman ini salah seorang dari Ikhwan mengalami dan tetap bersabar menghadapi berbagai siksaan di penjara penguasa zalim, namun ungkapan yang senantiasa disenandungkan adalah:
هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
“Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan”. (Al-Ahzab:22)
Seiring dengan kabar gembira berupa kemenangan, maka kita berhak menerima ganjaran dan berkewajiban menghadap Allah SWT dengan meningkatkan ketaatan kepada-Nya, meningkatkan keikhlasan dan ketawadu’an, serta meningkatkan keyakinan bahwa Allah SWT akan menyempurnakan nikmat-Nya dan mewujudkan misi yang dibangun oleh suatu bangsa karena-Nya; karena Allah SWT telah berjanji akan menjatuhkan ancaman-Nya kepada para pelaku kezaliman dan kejahatan dan membela dan memberikan kemenangan bagi orang-orang beriman:
بِالْبَيِّنَاتِ فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِينَ أَجْرَمُوا وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
“Lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman”. (Ar-Rum:47)
Lapang dada dan memaafkan
Bahwa menimpakan kata-kata buruk pada hati seorang muslim adalah lebih buruk daripada menimpakan pecutan pada tubuhnya, karena hal tersebut dapat menyempitkan dada padanya. Begitu banyak tuduhan yang dilontarkan oleh media dalam bentuk kebohongan dan kedustaan terhadap Ikhwanul Muslimin, namun mereka tetap berada dalam mengikuti dan meneladani Rasulullah saw. Allah telah berfirman:
 وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ  وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat). Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (Al-Hijr:97-99)
Karena itu, seorang muslim harus senantiasa sibuk dengan dirinya dari apa yang mereka ucapkan, tidak membalasnya kecuali hanya sibuk dengan berzikir kepada Allah dan beribadah serta beramal dengan hal-hal yang bermanfaat untuk manusia, menghubungkan kebaikan yang dibawanya untuk orang lain, meneguhkan hatinya untuk senantiasa lapang dada dan mengedepankan maaf
فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan Katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk)”. (Az-Zukhruf:89)
Inilah jalan yang mampu melemahkan kerasnya permusuhan dan melunturkan pertikaian
وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. (Fushilat:34)
Berbagai peristiwa yang terjadi adalah tafsiran kongkret ayat-ayat Al-Qur’an
Wahai umat Islam, bacalah tafsir ayat-ayat Al-Qur’an al-Karim, diantaranya tentang realita yang mampu menumbuhkan nilai-nilai dan menjadikannya hidup dan bergerak, kalian akan dapat melihat bahwa mereka yang dijatuhi hukuman mati akan senantiasa hidup berbeda dengan orang yang telah menjatuhi hukuman mati dan orang-orang yang dijatuhi hukuman penjara tetap bebas dari ikatannya daripada orang yang telah membelenggunya, dan orang yang terhalangi geraknya untuk bisa mencapai pada suatu tempat sehingga bisa berkhidmah kepada bangsanya, mampu ditembus dan sampai kepada mereka; ikut bermalam suntuk dengan penuh kenyamanan, sementara para pendahulu mereka pergi begitu saja, begitu pula dengan mereka yang terusir jauh dari negeri dan keluarganya, dapat kembali dengan penuh keperkasaan, kemuliaan dan kebanggaan, dan mereka yang terkungkung di dalam negerinya sendiri dan tertahan untuk bisa melakukan safar, dapat leluasa pergi dan melakukan safar kemana saja yang diinginkan tanpa ada ikatan apapun… dan akan datang setelah ini insya Allah beberapa buah revolusi Mesir yang penuh berkah, semua itu dan yang lainnya dapat kita saksikan secara real dan terasa di Mesir, di Tunisia dan di Libia… ini merupakan tafsiran real akan firman Allah:
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ  وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الأرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ
“Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: “Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri Kami atau kamu kembali kepada agama kami”. Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: “Kami pasti akan membinasakan orang- orang yang zalim itu, dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku”. (Ibrahim:13-14)
Dan firman Allah:
 إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ  وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ
“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir”. (Ali Imran:140-141)
Wahai Umat Islam.. semua itu dan yang lainnya memberikan ma’rifah dan kemantapan, menjelaskan akan makna-makna yang baru terhadap ayat-ayat Al-Qur’an Al-Karim, semakin faham bahwa Al-Qur’an adalah benar dan nyata, memberikan ketenteraman hati, meningkatkan keteguhan dan memperbaharui cita-cita
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar”. (Fushilat:53)
Dan ketahuilah bahwa jika manusia menjatuhkan hukuman maka hukum terakhir ada pada Allah SWT, tidak lain bagi seorang muslim yang dapat dilakukan kecuali tsabat (teguh) pada kebenaran, bersabar dan berserah diri kepada Allah sehingga Allah yang menerapkan hukum Allah SWT
وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ
“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya”. (Yunus:109)
فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لا يُوقِنُونَ
“Dan bersabarlah kamu, Sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu”. (Ar-Rum:60)
إِنْ أُرِيدُ إِلا الإصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali”. (Hud:88)
Allahu Akbar
Dan segala puji hanya milik Allah.
Risalah dari Prof. DR. Muhammad Badi’, 
Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 02-02-2012
Penerjemah:
Abu ANaS MA
http://www.al-ikhwan.net

0 komentar:

Posting Komentar