“Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (Yusuf:108).

Senin, 23 Januari 2012

SUDAH SUCI DARI HAID TAPI BELUM MANDI JINABAH,APAKAH BOLEH BERJIMA'?

Assalamu ‘Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh. Wb. Ust, Apa hukumnya bersetubuh tapi belum mandi haid, namun sudah bersih dari haid? (dari 085252330xxx)

Jawaban:

Wa ‘alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu wa Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala  Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah, wa ba’d:

Semoga Allah merahmati sdr/i penanya dan kita semua ...
Hendaklah bersabar dan jangan terburu-buru. Walaupun secara jasadiyah sudah bersih dari haid, namun secara ma’nawiyah (nilai) masih belum sempurna kesuciannya, sebelum disempurnakan dengan mandi haid. Maka, sempurnakanlah kesucian Anda dengan mandi wajib. Selain memang itu lebih bersih dan menyegarkan bagi Anda berdua.

Sebenarnya para ulama kita berbeda pendapat dalam hal ini, perbedaan tersebut diterangkan oleh Imam Athb Thabari dalam Tafsirnya.  Namun kebanyakan mereka melarang jima’ dengan isteri yang sudah selesai haid tetapi belum mandi haid. Allah Ta’ala berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah (2): 222)

Dalam Tafsir Ath Thabari disebutkan tentang makna “Suci” dalam ayat tersebut:
 فقال بعضهم: هو الاغتسال بالماء، لا يحل لزوجها أن يقربها حتى تغسل جميع بدنها.
وقال بعضهم: هو الوضوء للصلاة.
وقال آخرون: بل هو غسل الفرج، فإذا غسلت فرجها، فذلك تطهرها الذي يحلّ به لزوجها غشيانُها.
“Sebagian mereka berkata: maksudnya adalah mandi dengan air, tidak halal bagi seorang suami mendekati isterinya (maksudnya bersetubuh), sebelum dia memandikan seluruh badannya.
Sebagian mereka berkata: maksudnya adalah wudhu untuk shalat
Sedangkan yang lain mengatakan: maksudnya adalah mencuci kemaluan, jika sudah mencuci kemaluannya, maka itu telah mensucikannya, yang dengannya maka suaminya halal untuk bersetubuh dengannya.” [1]
Keterangan dari Imam ath Thabari ini membuktikan bahwa memang telah terjadi perselisihan pendapat dalam masalah ini.
Imam Ath Thabari Rahimahullah[2] melanjutkan:
فتأويل الآية إذًا: ويسألونك عن المحيض قل هو أذى، فاعتزلوا جماع نسائكم في وقت حيضهنّ، ولا تقربوهن حتى يغتسلن فيتطهرن من حيضهن بعد انقطاعه.
“Maka, takwil ayat tersebut adalah: “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang haid, katakanlah dia adalah penyakit, maka jauhilah bersetubuh dengan  wanita kalian pada waktu haid mereka, dan jangan dekati mereka (bersetubuh) sampai mereka mandi, yang bisa mensucikan mereka dari haidnya  setelah terhentinya darah.”  [3]
Berkata Imam Hasan Al Bashri Radhiallah ‘Anhu[4] :
لا يغشاها زوجُها حتى تغتسل وتحلَّ لها الصلاة.
“Suami tidak boleh bersetubuh dengan isterinya, sampai isterinya mandi,  yang dengan mandi  itu  dibolehkan baginya shalat.” [5]
Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Utsman bin al Aswad, dan Ibrahim an Nakha’i Radhiallahu ‘Anhum.
Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhamamdin wa ‘Ala Alihi wa Shahbihi ajma’in.

Wallahu A’lam.

Farid Nu'man Hasan


[1] Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari, Jami’ al Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Juz. 4, Hal. 384. Mu’asasah Risalah, cet.1, 2000M/1420H.  
[2] Dia adalah Abu Ja’far bin Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Ghalib, biasa disebut Imam Ibnu Jarir Ath Thabari. Lahir di Thabaristan pada 224H (839M). Dia dijuluki Imamul Mufassirin (Imamnya para ahli tafsir). Kuat hafalannya, cerdas, tawadhu, wara’ (hati-hati terhadap perkara syubhat), zuhud, dan suka bergurau. Karyanya Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran merupakan kitab tafsir besar tertua yang masih ada sampai saat ini. Begitu pula dalam bidang sejarah, karyanya Tarikhul Umam wal Muluk merupakan kitab sejarah lengkap dan belum ada yang mampu menyamainya. Sehingga dia pun juga dijuluki Aba At Tarikh (Bapaknya ahli sejarah). Wafat di Baghdad Ahad sore tahun 310H (923M). Banyak sekali manusia mengantarkan jenazahnyadan hanya Allah Ta’ala yang mengetahui jumlahnya.
[3] Ibid, Juz. 4, Hal. 385.
[4] Dia adalah Al Hasan bin Abi Al Hasan, nama aslinya adalah Yassar Al Bashri Abu Said. Imamnya generasi tabi’in, lahir dua tahun sebelum wafatnya Khalifah Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu. Ketika bayi pernuh disusui oleh Ummu Salamah, isteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Orang shalih, salah satu wali Allah, hidupnya berkawan dengan kesedihan dan kesusahan, ucapannya penuh hikmah, bahkan ada yang mengatakan bak hikmah para nabi, tampan mempesona, ahli ibadah, zuhud, dan menjadi gurunya para imam  masa tabi’in, seperti Atha’, Thawus, Amr bin Syu’aib dan Mujahid. Tak ada manusia yang menyamainya dalam masalah keilmuan pada masanya, namun jika dia punya masalah dia bertanya kepada kawannya pada masa tabi’in yakni Imam Said bin Al Musayyib (mantu Abu Hurairah) sebagaimana diceritakan oleh Qatadah. Al Hasan wafat pada hari Jumat bulan Rajab 110H.
[5] Ibid, Juz. 4, Hal. 386. 


sumber : islamedia.web.id

0 komentar:

Posting Komentar